jutung Fish

Kamis, 22 Maret 2012

PENDARAHAN VASA PREVIA

Definisi
Vasa praevia adalah komplikasi obstetrik dimana pembuluh darah janin melintasi atau berada di dekat ostium uteri internum (cervical os). Pembuluh darah tersebut berada didalam selaput ketuban (tidak terlindung dengan talipusat atau jaringan plasenta) sehingga akan pecah bila selaput ketuban pecah.
Etiologi
Vasa previa terjadi bila pembuluh darah janin melintasi selaput ketuban yang berada di depan ostium uteri internum. Pembuluh darah tersebut dapat berasal dari insersio velamentosa dari talipusat atau bagian dari lobus suksenteriata (lobus aksesorius). Bila pembuluh darah tersebut pecah maka akan terjadi robekan pembuluh darah sehingga terjadi eksanguisasi dan kematian janin.
Patofisiologi
Penyebab dari pendarahan vasa previa yakni adaya pembuluh darah janin melintasi selaput ketuban yang berada di depan ostium uteri internum. Dimana pembuluh darah tersebut berasal dari insersio velamentosa. Patofisologi pendarahan vasa previa disini hampir sama dengan etiologinya karena hampir semua berhubungan.

Maninfestasi klinik.
- Dapat timbul perdarahan pada kehamilan ³ 20 minggu
- Darah berwarna merah segar
- Tidak disertai atau dapat disertai nyeri perut (kontraksi uterus)
- Perdarahan segera setelah ketuban pecah dan karena perdarahan ini berasal dari anak maka dengan cepat bunyi jantung anak menjadi buruk.
Diagnosa
• Jarang terdiagnosa sebelum persalinan namun dapat diduga bila usg antenatal dengan Coolor Doppler memperlihatkan adanya pembuluh darah pada selaput ketuban didepan ostium uteri internum.
• Tes Apt : uji pelarutan basa hemoglobin. Diteteskan 2 – 3 tetes larutan basa kedalam 1 mL darah. Eritrosit janin tahan terhadap pecah sehingga campuran akan tetap berwarna merah. Jika darah tersebut berasal dari ibu, eritrosit akan segera pecah dan campuran berubah warna menjadi coklat.
• Diagnosa dipastikan pasca salin dengan pemeriksaan selaput ketuban dan plasenta
• Seringkali janin sudah meninggal saat diagnosa ditegakkan mengingat bahwa sedikit perdarahan yang terjadi sudah berdampak fatal bagi janin
Pemeriksaan penunjang
1. USG : biometri janin, plasenta (letak, derajat maturasi, dan kelainan), ICA.
2. Kardiotokografi:kehamilan > 28 minggu.
3. Laboratorium : darah perifer lengkap.
Penatalaksanaan
Segera di rujuk ke rumah sakit yang memadai yang dapat melakukan segera seksio sesar.

makalah perubahan fisiologis pada masa nifas

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kehamilan dan kelahiran dianggap sebagai suatu kejadian fisiologis yang pada sebagian besar wanita berakhir dengan normal dan tanpa komplikasi (Departmen of Health, 1993). Pada akhir masa puerperium, pemulihan persalinan secara umum dianggap telah lengkap. Pandangan ini mungkin terlalu optimis. Bagi banyak wanita, pemulihan adalah sesuatu yang berlangsung terjadi dan menjadi seorang ibu adalah proses fisiologis yang normal.
Namun, beberapa studi terbaru mengungkapkan bahwa masalah-masalah kesehatan jangka panjang yang terjadi setelah melahirkan adalah masalah yang banyak ditemui (Hillan, 1992b; glazener et al. 1993; bick dan MacArthur,1995a), dapat berlangsung dalam waktu lama (macArthuretal.1991). Pengetahuan menyeluruh tentang perubahan fisiologis dan psikologis pada masa puerperium adalah sangat penting jika bidan menilai status kesehatan ibu secara akurat dan memastikan bahwa pemulihan sesuai dengan standar yang diharapkan. Hal yang sama pentingnya adalah menyadari potensi morbiditas pascapartum dalam jangka panjang dan factor-faktor yang berhubungan dengannnya seperti obstetric, anestesi dan faktor sosial.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
- Untuk mengetahui perubahan fisiologis pada masa nifas terutama tanda – tanda vital
2. Tujuan Khusus
- Untuk memenuhi tugas ASKEB III ( Nifas )
- Agar mahasiswa lebih terampil memberikan asuhan kebidanan tentang perubahan fisiologis pada masa nifas khususnya tanda – tanda vital.
- Menjadikan mahasiswa sebagai calon petugas kesehatan yang terampil dan kompeten dalam bekerja.



















BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI NIFAS
Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang disebut puerperium atau trimester ke empat kehamilan. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap normal, di mana proses-proses pada kehamilan berjalan terbalik. Banyak factor, termasuk tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, dan perawatan serta dorongan semangat yang diberikan tenaga kesehatan professional ikut membentuk respons ibu terhadap bayinya selama masa ini. Untuk memberi perawatan yang menguntungkan ibu, bayi, dan keluarganya, seorang perawat harus mampu memanfaatkan pengetahuannnya tentang anatomi dan fisiologi ibu pada periode pemulihan

B. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA NIFAS (Tanda – tanda vital)

Beberapa perubahan tanda – tanda vital terlihat jika wanita dalam keadaan normal, peningkatan darah systole maupun diastole timbul dan berlangsung selama 4 hari, setelah wanita melahirkan, fungsi pernafasan akan kembali seperti wanita tidak hamil pada bulan ke 6 setelah wanita melahirkan. Saat rahim kosong, diafragma turun, aksis jantung kembali normal, dan impulase titik maksimum ( point of maximum impulase (PMI)) dan EKG kembali normal. Perubahan fisiologis pada masa nifas ( tanda – tanda vital) meliputi, Suhu badan, nadi, pernafasan, dan tekanan darah.

a) Suhu badan
Satu hari (24jam) postpatum suhu badan akan naik sedikit (37,5°C – 38°C), suhu dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, Apabila keadaan normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, tractus genitalis atau sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.

b). Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat. Bradichardi umumnya ditemukan 6-8 jam pertama setelah persalinan. Bradichardi merupakan suatu konsekuensi peningkatan cardiac out put & stroke volume. Nadi kembali seperti keadaan sebelum hamil 3 bulan setelah persalinan. Nadi diantara 50-70x/ menit dianggap normal. Nadi yang cepat / > mungkin indikasi hipovolumia sekunder dari perdarahan.

c). Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu umumnya pernafasan lambat atau. Normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi.istirahat. Pernafasan akan menurun sampai pada keadaan noramal seperti sebelum hamil, keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Hipoventilasi dan Hypotensi mungkin terdapat pada suatu keadaan yang tidak normal, sehingga sering kali terjadi peningkatan subarachnoid (spinal block).

d) Tekanan darah
Tekanan darah sedikit berubah / tidak berubah sama sekali. Hipotensi ortostatik yang diindikasikan dengan perasaan pusing atau pening setelah berdiri dapat berkembang dalam 48 jam pertama sebagai suatu akibat gangguan pada daerah persyarafan yang mungkin terjadi setelah persalinan. Penyebab tekanan darah menurun karena adanya hipovolumia karena perdarahan. Bagaimanapun itu tanda yang terakhir dan gejala lain perdarahan harus diwaspadai. Penyebab Tekanan darah meningkat karena diakibatkan oleh penggunaan obat oxytosin yang berlebihan jika terjadi hipertensi pada kehamilan atau terjadi pada periode I pospartum maka evaluasi rutin tekanan darah diperlukan. Jika seorang wanita mengalami sakit kepala, hipertensi adalah sebagai suatu penyebab Analgetik diberikan jika tensi tinggi & wanita harus cukup istirahat.







BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Masa nifas adalah periode waktu atau masa dimana organ –organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil, masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu, pada masa nifas banyak terjadi perubahan fisiologis maupun perubahan psikologis,diantara perubahan fisiologis tanda – tanda vital, pada masa nifas perubahan tanda – tanda vital harus dilakukan karena untuk membantu tenaga kesehatan dalam pengawasan postpartum / nifas. Tekanan darah harus dalam keadaan stabil, suhu turun secara perlahan dan stabil pada 24 jam post partum, nadi menjadi normal setelah persalinan.

B. SARAN
Mengingat bahayanya kenaikan tanda - tanda vital diatas batas normal, akan berakibat fatal sehingga penting seorang tenaga Bidan memantau perkembangan fisiologis pasien post partum atau nifas di antaranya dengan memantau tanda - tanda vital. Sehingga seorang Bidan dapat melakukan penanganan selanjutnya dengan segera.







DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas Yogyakarta: Mitra Cendikia..
Saleha, 2009. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Jakarta: Salemba Medika

makalah asuhan kebidanan secara komprehensif

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kesehatan maternal merupakan komponen utama dari awal kehidupan yang sangat penting, dari kesehatan maternal memberikan gambaran kehidupan bagi kesejahteraan bayi yang dikandung. Namun banyak faktor yang dapat memperberat keadaan kehamilan itu sendiri dan pada persalinan dapat mengalami hambatan yang memperberat keadaan ibu dan bayinya, sehingga bayi yang dilahirkan tidak dapat semaksimal mungkin. Kematian maternal lebih banyak terjadi setelah persalinan, tepatnya dalam 24 jam post partum.
WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 meninggal saat hamil atau bersalin. (www.depkes.go.id)
Jumlah angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya. Menurut Depkes tahun 2005 jika dibandingkan AKI Singapura adalah 6 per 100.000 kelahiran hidup, AKI Malaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI Vietnam sama seperti Negara Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup, dan Indonesia sendiri jumlah AKI yaitu 290 per 100.000 kelahiran hidup. Dan mengalami penurunan lagi menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 34/1000 kelahiran hidup. (SDKI 2007)
Demikian pula AKB, khususnya angka kematian bayi baru lahir, menurut Direktur Bina Kesehatan Anak Kementrian Kesehatan (Fatni Sulani) mengungkapkan AKB Indonesia masih berada dibawah dibandingkan negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura 3 per 1.000, Brunei Darussalam 8 per 1000, Malaysia 10 per 1.000, Vietnam 18 per 1.000, Thailand 20 per 1.000, dan Indonesia sendiri yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). (comel@mediaindonesia.com)
AKI dan AKB di propinsi BANTEN 2009, Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiah, SE menambahkan, angka kematian bayi tahun 2008 dari 34 persen per seribu kelahiran menurun menjadi 25,3 persen per seribu kelahiran pada tahun 2009. Sedangkan angka kematian ibu juga mengalami penurunan, dari 478 orang pada tahun 2008 menjadi 372 orang pada 2009. (www.banten.go.id)
Penyebab langsung kematian ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, Dan berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu dari 228 per 100.000 yaitu perdarahan sekitar 84 kasus (39%), eklampsia sekitar 49 kasus (20%), infeksi 21 kasus (7%) dan lain-lain 71 kasus (33%) per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut RISKESDAS 2007, Penyebab kematian bayi dari 34 per 1.000 yaitu diare 15 kasus (42%), pneumonia 9 kasus (24%), meningitis/ensefalitis 3 kasus (9%), kelainan saluran cerna 2 kasus (7%), kelainan jantung kongenital dan hidrosefalus 2 kasus (6%), sepsis 1 kasus (4%), tetanus 1 kasus (3%) dan lain-lain 1 kasus (5%) dari 1.000 kelahiran hidup.
Salah satu tujuan pembangunan milenium. (Millennium Development Goals / MDGS) adalah menurunkan AKI sebanyak tiga perempat dari angka nasional pada tahun 2015. Target RPJMN Tahun 2010-2014 mengamanatkan agar AKI dapat diturunkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014. Selain itu, kesepakatan global Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, sedangkan untuk AKB adalah 23/100.000.
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan. Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan faktor resiko tidak langsung berupa keterlambatan (Tiga Terlambat), yaitu terlambat mengambil keputusan dan mengenali tanda bahaya, terlambat dirujuk, dan terlambat mendapat penanganan medis. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. (http://staff.blog.ui.ac.id)
Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal). Untuk mewujudkan upaya tersebut bidan sebagai pelayanan kesehatan dasar ibu dan anak harus mampu mendeteksi resiko tinggi kepada setiap ibu hamil di wilayah kerjanya serta mampu melakukan pengawasan, perawatan dan penatalakasanaan yang komprehensif kepada ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas. Mengingat pentingnya peran dan fungsi bidan, hal ini melatarbelakangi penulis untuk melakukan studi kasus melalui pendekatan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S di BPS Bd. Een Jl. Raya Pagedangan No.21 Pagedangan Tangerang

1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Dapat melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada ibu hamil, nifas, bayi baru lahir, nifas, dan konseling KB secara komprehensif sehingga dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dan melakukan pendokumentasian dengan metode SOAP.
2. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dan melakukan pendokumentasian dengan metode SOAP.
3. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dan melakukan pendokumentasian dengan metode SOAP.
4. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dan melakukan pendokumentasian dengan metode SOAP.

1.3 Manfaat Penulisan
Diharapkan studi khusus ini dapat bermanfaat bagi :
1.3.1 Penulis
Menerapkan secara langsung ilmu yang didapat selama bangku kuliah mengenai manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir normal dengan menggunakan asuhan kebidanan sesuai prosedur. Serta dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman.
1.3.2 Institusi Pendidikan
Mengetahui perkembangan ilmu kebidanan secara nyata dilapangan, serta dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk pendidikan.
1.3.3 Lahan Praktek
Mengetahui perkembangan ilmu kebidanan secara nyata dilapangan dan sesuai teori yang ada, serta dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan referensi untuk lahan praktek.
1.3.4 Pasien / Klien
Untuk meningkatkan pengetahuan pasien / klien tentang kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir terutama bagi wanita usia subur (20-30 tahun) dan betapa pentingnya pemeriksaan kehamilan serta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

1.4 Hasil Yang Diharapkan
1. Dapat diterapkannya manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan dilakukannya ANC secara teratur sehingga kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi dapat termonitor dengan baik dan pemantauan terhadap komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi dapat terdeteksi secara dini,
2. Dapat diterapkannya asuhan pada ibu bersalin dan terlaksananya asuhan persalinan normal tanpa ada komplikasi ataupun penyulit yang mungkin terjadi.
3. Dapat diterapkannya asuhan kebidanan pada ibu nifas sehingga masa nifas dapat berlangsung normal tanpa terjadi infeksi ataupun komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
4. Dapat diterapkannya asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan baik dan benar.
5. Dapat memotivasi ibu menjadi akseptor KB.

1.5 Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus
Waktu pengambilan kasus dimulai sejak tanggal 8 Mei- 25 Juni 2011 di BPS Bd. Een Jl. Raya Pagedangan No.21 Pagedangan Tangerang dan tempat tinggal Ny. S di Kp. Cihuni RT/RW 03/03.















BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Kehamilan
2.1.1 Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari), dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Saifuddin, 2006)
Kehamilan adalah suatu keadaan untuk menjadi seorang bayi yang belum lahir menjadi mampu hidup di luar lingkungan tubuh ibunya yang aman, nyaman, dan terlindungi, sedangkan anda dan pasangan anda menjadi orang tua. (Simkin, 2007)
Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). (Wiknjosatro, 2007)
Menurut Wiknjosatro (2007), ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
1. Kehamilan triwualan pertama (antara 0 – 12 minggu)
2. Kehamilan triwulan kedua (antara 12 – 28 minggu)
3. Kehamilan triwulan ketiga (antara 28 – 40 minggu)

2.1.2 Perubahan Fisiologis Kehamilan
Menurut Hidayati (2009), perubahan fisiologis adalah sebagai berikut :
2.1.2.1 Perubahan Sistem Reproduksi
1. Uterus
a. Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga menjadi seberat 1.000 gram saat akhir kehamilan.
b. Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan lunak, sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat saling sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda Hegar.
2. Serviks
Perubahan warna dan konsistensi
3. Vagina dan vulva
Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi darah karena pengaruh estrogen, sehingga tampak makin merah dan kebiru-biruan (Tanda Piscaseck).
4. Ovarium
Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.
5. Payudara
a. Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberi ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, dan somatomammotropin.
b. Pembentukan payudara akan terasa lebih lembut, kenyal dan berisi, serta jalur-jalur pembuluh darah disekitar wilayah dada akan lebih terlihat jelas dari biasanya, hal ini untuk persiapan saat menyusui.
2.1.2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi
Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini:
1. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
2. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
3. Pengaruh hormon estrogen dan progesteron.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, antara lain sebagai berikut:
a. Volume darah
1) Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu.
2) Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar umur kehamilan 16 minggu. Oleh karena itu, pengidap penyakit jantung harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Pada postpartum terjadi hemokonsentrasi.
b. Sel darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah, sehingga terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis.
2.1.2.3 Perubahan Sistem Respirasi
Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan O2 yang semakin meningkat. Disamping itu juga terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim. Ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari biasanya. Sesak nafas dan pernafasan yang cepat akan membuat ibu hamil merasa lelah, hal ini dikarenakan saat kehamilan kerja jantung dan paru-paru.
2.1.2.4 Perubahan Sistem Percernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat rasa enek (nausea). Mungkin ini akibat pada hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di lambung dan apa yang telah dicerna lebih lama berada di usus. (Wiknjosastro, 2007)
2.1.2.5 Perubahan Sistem Traktus Urinarius
Pengaruh desakan hamil muda atau pembesaran rahim seiring dengan bertambahnya usia kehamilan yang menekan kandung kemih dan turunnya kepala bayi pada hamil tua akan menyebabkan gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih.
2.1.2.6 Perubahan Integumen
1. Perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh Melanophore Stimulating Hoemone (MSH), pengaruh lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum lividae atau alba, areola mammae, papila mammae, linea nigra, dan pipi (cloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.
2. Perubahan kondisi kulit yang berubah terbalik dari keadaan semula, yang biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering, maka kini akan menjadi berminyak, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena adanya perubahan hormon di dalam tubuh ibu hamil.
3. Rambut menjadi lebih kering atau berminyak karena adanya perubahan hormon.

2.1.3 Perubahan Psikologis Selama Kehamilan
Menurut Hidayati (2009), adaptasi psikologis ibu hamil yaitu:
1. Trimester pertama
Ragu – ragu akan kehamilannya, ambivalen (konflik perasaan) dan lebih banyak berfokus pada diri sendiri. Pada trimester ini, adanya perasaan tidak nyaman akibat perasaan mual, muntah dan keletihan sering kali keinginan seksual menurun.
2. Trimester kedua
a. Adanya pergerakan bayi, ibu menjadi yakin dengan keberadaan bayinya dan ibu merasa percaya akan segera mempunyai bayi.
b. Ibu lebih banyak berfokus pada bayinya, biasanya dia merasa lebih baik dari pada trimester I dan belum mengganggu aktivitasnya.
c. Perubahan ukuran tubuh untuk beberapa orang menyebabkan perubahab body image atau pandangan terhadap gambaran diri yang negatif.
3. Trimester Ketiga
a. Persiapan kelahiran sudah mulai dilakukan ibu. Ibu menanyakan tentang tanda – tanda persalinan kepada teman atau saudaranya yang telah mengalami proses persalinan.
b. Beberapa wanita mengalami ketakutan persalinan dan merasa tidak nyaman menghadap hari – hari menjelang persalinan.
c. Ibu menyiapkan pakaian, tempat untuk bayi dan merencanakan perawatannya.

2.1.4 Ketidaknyamanan Selama Kehamilan
Menurut Kusmiyati (2009) Ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil selama kehamilan, diantaranya :
2.1.4.1 Keputihan (pada TM I,II,dan III)
Terjadi peningkatan produksi lendir dan kelenjar endocervikal sebagai akibat dari peningkatan hormon estrogen. Cara meringankan atau mencegah : meningkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari, memakai pakaian dalam yang terbuat dari katun bukan nilon, menghindari pencucian vagina dan mencuci vagina dengan sabun dari arah depan ke belakang.
2.1.4.2 Sering buang air kencing / nocturia
Terjadi karena penekanan uterus pada kandung kemih. Nocturia akibat eksresi sodium yang meningkat bersamaan dengan terjadinya pengeluaran air. Cara meringankan : kosongkan saat terasa dorongan untuk kencing, perbanyak minum pada siang hari, jangan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nocturia kecuali jika nocturia mengganggu tidur dan menyebabkan keletihan, batasi minum bahan diuretik alamiah seperti : kopi, teh dan cola.
2.1.4.3 Rasa mual atau muntah – muntah
Penyebab yang pasti tidak diketahui, mungkin disebabkan peningkatan kadar HCG, estrogen atau progesteron. Cara meringankan atau mencegah : hindari bau dan faktor penyebab, makan sedikit tapi sering, hindari makan yang berminyak dan berbumbu merangsang.
2.1.4.4 Garis-garis di perut (Striae gravidarum)
Terdiri dari arteriola tengah yang terbuka yang datar atau sedikit meningkat dengan radiasi cabang kapiler yang menyebar, yang paling jelas di daerah - daerah kulit yang dialiri darah dari vena cava superior (sekitar mata, leher, kerongkongan, dan lengan). Cara meringankan atau mencegah : gunakan emollien topikal atau antipiuritik jika ada indikasinya, gunakan atau kenakan pakaian yang menopang payudara dan abdomen.
2.1.4.5 Konstipasi
Terjadi karena tekanan dari uterus yang membesar pada usus, peningkatan kadar progesteron yang menyebabkan peristaltik usus jadi lambat. Cara meringankan atau mencegah : tingkatkan intake cairan, istirahat cukup, minum cairan dingin atau hangat (ketika perut kosong).
2.1.4.6 Sesak napas
Biasanya terjadi pada trimester II dan III. Sesak napas terjadi karena uterus yang membesar dan menekan pada diafragma. Cara meringankan atau mencegah : latihan napas melalui senam hamil, tidur dengan bantal ditinggikan, makan tidak terlalu banyak, konsul ke dokter bila ada asma.


2.1.4.7 Varises pada kaki/vulva
Biasanya terjadi pada trimester II dan III. Varises ini terjadi karena kongesti vena dalam vena bagian bawah yang meningkat sejalan dengan kehamilan karena tekanan dari uterus yang hamil. Cara meringankan atau mencegah : tinggikan kaki sewaktu berbaring atau duduk, hindari berdiri atau duduk terlalu lama, istirahat dalam posisi berbaring kekiri.

2.1.5 Tanda Bahaya Kehamilan Trimester III
Menurut Pinem (2009), tanda bahaya dalam kehamilan perlu diketahui oleh ibu dan keluarga agar ia waspada terhadap ancaman kesehatan diri maupun janinnya. Berikut adalah tanda bahaya yang penting diketahui oleh ibu dan keluarga:
1. Perdarahan melalui jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
2. Nyeri perut bagian bawah secara terus-menerus, kadang-kadang menjalar ke punggung atau ke samping dan tidak kurang waktu dibawa beristirahat. Gejala-gejala ini merupakan tanda infeksi kandung kemih yang dapat menyebabkan persalinan sebelum waktunya.
3. Bengkak, mula-mula pada kaki yang tidak hilang setelah istirahat rebah, disertai nyeri kepala, mual, nyeri ulu hati, apalagi disertai penglihatan kabur dan kejang-kejang.
4. Keluar cairan ketuban dari jalan lahir sebelum kehamilan cukup bulan.
5. Demam tinggi, batuk hebat, muntah-muntah atau diare. Semua penyakit ini dapat membuat ibu hamil lemah, ibu dan janin dapat meninggal dunia.
6. Janin berkurang geraknya, karena mungkin kekurangan oksigen atau makanan dari ibunya sehingga janin dapat menjadi lemah dan mungkin meninggal.
7. Berat badan turun atau tidak berta
2.1.6 Asuhan Antenatal
2.1.6.1 Asuhan antenatal
Menurut Saifuddin (2006), pelayanan/asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor atau mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.
Ante Natal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. (Manuaba, 1998)
2.1.6.2 Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut:
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi
2. Meningkatkan dan mempertahankan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
2.1.6.3 Kebijakan Program
Menurut Saifuddin (2006), kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.
1. Satu kali pada triwulan pertama
2. Satu kali pada triwulan kedua
3. Dua kali pada triwulan ketiga
Pelayanan/ asuhan standar minimal termasuk “10 T”, yaitu:
1. Timbang berat badan
2. Ukur (Tekanan) darah
3. Nilai status lingkar lengan (LILA)
4. Ukur (Tinggi) fundus uteri
5. Tentukan presentasi janin dan DJJ
6. Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
7. Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
8. Tes Laboratorium
9. Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS).
10. Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan. (PWS KIA, 2009)
2.1.6.4 Jadwal kunjungan ulang
Menurut Siti (2009), Jadwal kunjungan ulang pada kehamilan yaitu:
1. Kunjungan I (16 minggu), dilakukan untuk:
a. Persiapan dan pengobatan anemia
b. Perencanaan persalinan
c. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2. Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu), dilakukan untuk:
a. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
b. Penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan saluran perkemihan.
c. Mengulang perencanaan persalinan
3. Kunjungan IV: 36 minggu sampai lahir:
a. Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
b. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
c. Memantapkan rencana persalinan
d. Mengenali tanda-tanda persalinan
2.1.6.5 Kebijakan teknis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. (Saifuddin, 2006)
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
1. Mengupayakan kehamilan yang sehat
2. Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3. Persiapan persalinan yang bersih dan aman
4. Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakuakan rujukan jika terjadi komplikasi

2.1.7 Pemeriksaan / Pengawasan wanita hamil
2.1.7.1 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan pada bagian tubuh dari kepala sampai kaki. Kehamilan merupakan suatu proses pembuahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh normal di dalam rahim ibu. (Hidayati, 2009)
2.1.7.2 Tujuan pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada ibu hamil selain bertujuan untuk menegtahui kesehatan ibu dan janin saat ini, juga bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pemeriksaan berikutnya. Penentuan apakah sang ibu sedang hamil atau tidak sangat diperlukan saat ibu pertama kali berkunjung ke petugas kesehatan. Jika hasil pemeriksaan pada kunjungan pertama sang ibu dinyatakan hamil, maka langkah selanjutnya perlu ditentukan berapa usia kehamilannnya. Setiap pemeriksaan kehamilan adalah dengan melihat dan meraba petugas akan mengetahui apakah ibu sehat, janin tumbuh dengan baik, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan atau tidak, serta dimana letak janin. (Hidayati, 2009)
2.1.7.3 Tahapan pemeriksaan (Wiknjosastro, 2007)
1. Pemeriksaan pertama (anamnessa)
Tanyakan identitas dengan lengkap, kemudian tanyakan riwayat kehamilan ini. Bila seorang wanita datang dengan haid terlambat dan diduga ada kehamilan, maka dapat ditentukan tanggal perkiraan partus, jika Haid Pertama Haid Terakhir (HPHT) diketahui dan siklus ±28 hari. Rumus yang dipakai adalah rumus Naegele. Perkiraan partus menurut rumus ini : hari + 7, bulan -3, dan tahun +1. Misalnya HPHT tanggal 1-5-1990, maka perkiraan partus menurut rumus ini jatuh pada tanggal 8-2-1991.
Cara menghitung :
Jika HPHT tidak diingat maka sebagai pegangan dapat dipakai yaitu gerakan-gerakan janin, umumnya pada primigravida gerakan janin dirasakan oleh ibu pada usia 18 minggu, dan multigraviada pada kehamilan 16 minggu. Dapat pula digunakan perasaan nausea yang biasanya hilang pada akehamilan 12-14 minggu, hal ini bisa ditanyakan pada ibu. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang sebelumnya perlu pula ditanyakan beserta beratnya bayi waktu dilahirkan. Tanyakan pula pola makan ibu, aktifitas sehari-hari, imunisasi, kontrasepsi yang pernah digunakan, riwayat penyakit yang dideritanya atau riwayat penyakit keluarga seperti jantung, ginjal, DM, TBC, paru-paru dan sebagainya. Serta riwayat sosial yaitu perasaan tentang kehamilan ini dan status perkwinan.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan seluruh tubuh wanita harus diperiksa dengan teliti. Keadaan umum harus baik, tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, diperiksa dan dicatat. Kepala (rambut, kebersihan, ketebalan, dan adakah benjolan), mata (konjungtiva, sklera, dan pupil), telinga (kebersihan, adakah cairan, serta posisi simetris/tidak), hidung (kebersihan dan polip), mulut (bibir, kebersihan, bau dan tonsil), gigi (lubang, caries), leher (pembesaran kelenjar thyroid/getah bening, dan nyeri), jantung (bunyi jantung I dan II), paru (suara nafas), mammae (simetris/tidak, benjolan, aerola, puting susu dan kebersihan), aksila (ada benjolan/tidak), seluruh abdomen (garis kehamilan, striae, bekas luka, bentuk, pembesaran, dan oedem), ekstremitas (varices, oedem tangan/jari, oedem tibia kaki dan refleks patella), diperiksa dengan teliti dan di catat.
3. Pemeriksaan ginekologik (pemeriksaan dalam/ bimanual)
a. Genitalia eksterna
Inspeksi luar : keadaan vulva / uretra, ada tidaknya tanda radang, luka / perdarahan, discharge, kelainan lainnya. Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas. Inspeksi dalam menggunakan spekulum (in speculo) : Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa, alat spekulum Cusco (cocorbebek) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertikal kemudian di dalam liang vagina diputar 90o sehingga horisontal, lalu dibuka. Deskripsi keadaan porsio serviks (permukaan,warna), keadaan ostium, ada/tidaknya darah/cairan/ discharge di forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor, tanda radang atau kelainan lainnya. Spekulum ditutup horisontal, diputar vertikal dan dikeluarkan dari vagina.
b. Genitalia interna
Palpasi : colok vaginal (vaginal touché) dengan dua jari sebelah tangan dan bimanual dengan tangan lain menekan fundus dari luar abdomen. Ditentukan konsistensi, tebal, arah dan ada/tidaknya pembukaan serviks. Diperiksa ada/tidak kelainan uterus dan adneksa yang dapat ditemukan. Ditentukan bagian terbawah Pada pemeriksaan di atas 34-36 minggu dilakukan perhitungan pelvimetri klinik untuk memperkirakan ada/tidaknya disproporsi fetopelvik/sefalopelvik.
4. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah gol darah (A, B, O), faktor rhesus, reaksi Wasserman, Kahn, dan seologik lainnya. Kadar haemoglobin, urine untuk albumin, gula, berat jenisnya, dan bila perlu untuk bakteriuri dan sebagainya.
5. Pemeriksaan Obstetrik
Wanita hamil yang diperiksa disuruh berbaring terlentang dengan bahu dan kepala sedikit lebih tinggi (memakai bantal), dan pemeriksa berada disebelah kanan yang diperiksa berada disebelah kanan yang diperiksa. Dikenal beberapa cara palpasi, yang lazim dipakai ialah cara palpasi menurut Leopold, karena telah hampir mencakupi semuanya (Wiknjosatro, 2007).
Palpasi dilakukan menurut teori Leopold, yaitu:
a. Leopold I
Kedua tangan pemeriksa menelusuri bagian kiri dan kanan abdomen ke arah fundus dengan kedua telapak tangan. Pemeriksaan ini untuk menentukan TFU (Tinggi Fundus Uteri) dan bagian janin dalam fundus uteri.
Tabel 2.1 TFU untuk menentukan usia kehamilan
TFU
(berdasarkan perabaan) Usia Kehamilan
1-2 jari atas symphysis 12 minggu
Pertengahan symphysis – pusat 16 minggu
3 jari bawah pusat 20 minggu
Setinngi pusat 24 minggu
3 jari atas pusat 28 minggu
Pertengahan Px – pusat 32 minggu
3 jari bawah Px 36 minggu
Pertengahan antara Px – pusat 40 minggu
Sumber : (Wiknjosatro, 2007).

Tabel 2.2 TFU untuk memantau tumbuh kembang janin
Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
dalam cm menggunakan penunjuk-penunjuk badan
12 minggu - Teraba di atas simfisis
16 minggu - Ditengah antara simfisis pubis dan umbilicus
20 minggu 20 cm (±2 cm) Pada umbilicus
22-27 minggu Usia kehamilan dalam minggu =26 cm (±2 cm) -
28 minggu 28 cm (±2 cm) Ditengah antara umbilikus dan prosesus sifoideus
29-35 minggu Usia kehamilan dalam minggu = (±2 cm) -
36 minggu 36 cm (±2 cm) Pada prosesus sifoideus
Sumber : (Saifuddin, 2006)


b. Leopold II
Kedua tangan pemeriksa diturunkan menelusuri tepi uterus. Tentukan batas samping uterus kiri-kanan dan bagian-bagian janin.
c. Leopold III
Tangan kanan pemeriksa memegang bagian bawah abdomen. Ini untuk menentukan bagian terbawah janin dan memastikan apakah bagian tersebut sudah masuk ke panggul atau belum.
d. Leopold IV
Pemeriksa menghadap kearah kaki pasien. Hal ini untuk menentukan seberapa jauh janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (PAP).
Tabel 2.3 Penurunan kepala janin menurut sistem perlimaan
Periksa luar Periksa dalam Keterangan

=5/5


- Kepala di atas PAP mudah digerakan

= 4/5

H I – II Sulit digerakan bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 3/5

H II – III Bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 2/5

H III+ Bagian terbesar kepala sudah masuk PAP

= 1/5
H III – IV Kepala di dasar panggul


= 0/5 HIV Di perineum


Sumber : (Saifuddin, 2006)
Cara menghitung TBJ
Digunakan rumus sebagai berikut :



Keterangan
1) Bila kepala belum masuk PAP, maka TFU dikurang 13
2) Bila kepala sebagian masuk PAP, maka TFU dikurang 12
3) Bila kepala sudah masuk PAP, maka TFU dikurang 11
6. Petunjuk menjaga kehamilan
Petunjuk hendaknya diberikan mengenai cara hidup, istirahat, diet dalam kehamilan, koitus, kebersihan dan pakaian, pengawasan berat badan, perawatan gigi, imunisai, merokok, pemberian obat, dan aktipitas yang ringan. Penting pula memberi suaminya pengetahuan tentang keadan isterinya yang hamil, segala sesuatu hendaknya diarahkan hingga diperoleh kepercayaan sepenuhnya dari ibu. Kunjungan berikutnya dianjurkan tiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, tiap 2 minggu sampai usia 36 minggu, dan tiap 1 minggu setelah kehamilan 36 minggu.

2.2 Persalinan
2.2.1 Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. (Saifuddin, 2006)
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai danya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. (JNPK-KR, 2008)
Persalinan adalah kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dari selaput janin dari tubuh ibu. (Sujiatini, dkk, 2011)
Menurut Ujiningtyas (2009), yang mengutip pendapat Farer (2001), persalinan normal adalah persalinan yang memiliki karakteristik berikut ini:
1. Terjadi pada kehamilan aterm, bukan prematur ataupun postmatur.
2. Mempunyai onset (permulaan) yang spontan, bukan karena induksi.
3. Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jan sejak saat onset (permulaan), bukan partus presipitatus ataupun partus lama.
4. Janin tunggal dengan presentasi puncak kepala dan oksiput pada bagian anterior pelvis
5. Terlaksana tanpa bantuan artifisial
6. Tidak terdapat komplikasi
7. Mencakup kelahiran plasenta yang normal

2.2.2 Sebab-Sebab yang Menimbulkan Persalinan
Menurut Sujiatini (2011), ada beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab yang menimbulkan persalinan, yaitu:
1. Teori Penurunan Hormonal
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron bekerja sebagai penenang otot – otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.



2. Teori Plasenta menjadi lebih tua
Yang akan menyebabkan turunnya kadar oksigen dan progesteron sehingga menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang akan menyebabkan iskemia otot – otot sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta.
4. Teori Iritasi Mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (Frankerhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
5. Induksi Partus (Induction of labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan rangsang laminaria, amniotomi, dan oksitosin drips.

2.2.3 Tanda dan Gejala Persalinan
1. Menurut Ujiningtyas (2009) yang mengutip pendapat Mochtar (1994), tanda dan gejala permulaan persalinan adalah:
Sebelum terjadinya persalinan yang sebenarnya, beberapa minggu sebelum wanita memasuki hari perkiraan kelahiran yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor) dengan tanda sebagai berikut:
a. Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul. Pada primigravida terjadi menjelang minggu ke 36. Lightening disebabkan oleh:
1. Kontraksi Braxton Hicks
2. Ketegangan dinding perut
3. Ketegangan ligamentum rotundum
4. Gaya berat janin
Saat kepala masuk pintu atas panggul (PAP), ibu akan merasa rasa sesak pada perut bagian atas berkurang dan pada bagian bawah tersa sesak.
b. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri turun
c. Sering miksi atau sulit berkemih
d. Sakit di pinggang dan di perut
e. Serviks mulai lembek dan mendatar
f. Terjadinya his permulaan atau his palsu
2. Tanda – tanda inpartu
Tanda- tanda persalinan inpartu adalah sebagai berikut:
a. Terjadi his persalinan, dengan karakteristik:
Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan
1) Sifat sakitnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar
2) Berpengaruh terhadap perubahan serviks
3) Dengan beraktivitas kekuatan makin bertambah
b. Pengeluaran lendir bercampur darah
c. Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya
d. Hasil pemeriksaan dalam (PD) menunjukkan terjadinya perlunakkan, pendataran dan pembukaan serviks

2.2.4 Faktor -faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Menurut Sujiyatini (2011) yang ada beberapa faktor yang mempengaruhi persalinan, antara lain:
1. Power/ kekuatan HIS dan mengejan:
a. His (kontraksi otot rahim)
b. Kontraksi
c. Kontraksi difragma pelvis atau kekuatan mengejan
d. Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotundum
2. Passege atau jalan lahir (panggul) : jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang
3. Passeger (fetus) : janin dan plasenta
4. Psikis : psikologis ibu
5. Penolong : Bidan atau Dokter

2.2.5 Tahapan/Proses Persalinan
2.2.5.1 Kala I (pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lender darah, karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (Effacement) kala dimulai dari pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm) lamanya kala I untuk primigravida berlangsung ± 12 jam, sedangkan pada multi gravid sekitar ± 8 jam. Berdasarkan kurva friedman pembukaan primi 1 cm/jam, sedangkan pada multi 2 cm/jam. (JNPK-KR, 2008)
Kala pembukaan dibagi dua fase :
1. Fase laten : pembukaan serviks, sampai ukuran 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.
2. Fase Aktif : berlangsung ± 6 jam, di bagi atas 3 sub fase yaitu :
a. Periode akselerasi berlangsung dua jam, pembukaan menjadi 4 cm
b. Periode dilatasi maksimal selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
c. Periode deselerasi berlangsung lambat, selama 2 Jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap
2.2.5.2 Kala II (kala pengeluaran janin)
Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut kala pengeluaran bayi. (JNPK-KR, 2008)
Gejala dan tanda kala II persalinan (JNPK-KR, 2008) :
1. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
2. Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum / pada vaginanya
3. Perineum menonjol
4. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Pada kala ini his terkoordinir, cepat dan lebh lama, kira-kira 2-3 menit sekali kepala janin telah masuk keruangan panggul sehingga terjadi tekanan pada otot dasar panggul yang menimbulkan rasa ingin mengedan, karena tekanan pada rectum, ibu ingin seperti mau buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada saat his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum meregang,. Dengan kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi kepala, membuka pintu, dahi, hidung, mulut dan muka dan seluruhnya, diikuti oleh putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala dengan punggung. Setelah itu sisa air ketuban. Lamanya kala II untuk primigravida 60 menit dan multigraviada 30 menit. (Sijiyanti, dkk, 2011)

2.2.5.3 Kala III (kala uri)
Kala III adalah waktu dari keluarnya bayi hingga pelepasan dan pengeluaran uri (plasenta) yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (JNPK-KR, 2008).
1. Tanda-tanda lepasnya plasenta yaitu:
a. Adanya perubahan bentuk dan tinggi fundus
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada di atas pusat (seringkali mengarah ke sisi kanan).
b. Tali pusat memanjang.
Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
c. Semburan darah mendadak dan singkat.
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplasenta pooling) dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungannya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas. Kemudian melakukan manajemen aktif kala III yaitu pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama bayi lahir, melakukan peregangan tali pusat, dan masase fundus uteri. Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala III persalinan lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, mengurangi kejadian retensio plasenta. (JNPK-KR, 2008)
2. Manajemen aktif kala III, yaitu:
a. Pemberian suntikan oksitosin
b. Melakukan peregangan tali pusat terkendali
c. Massase fundus uteri
2.2.5.4 Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk memantau kondisi ibu. Harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua. (Wiknjosastro, 2007)
Asuhan dan pemantauan kala IV (JNPK-KR, 2008) :
1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat
2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakan jari tangan secara melintang dengan pusat sebagai patokan
3. Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan
4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum
5. Evaluasi keadaan umum ibu
6. Dokumentasi semua semua asuhan selama persalinan kala IV dibagian belakang partograf, segera setelah asuhan dan penilaian dilakukan

2.2.6 Partograf
Partograf adalah suatu alat untuk mencatat hasil observasi dan pemeriksaan fisik ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat utama dalam mengambil keputusan klinik khususnya pada persalinan kala I. (Sumarah,dkk,2008)
Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin. Partograf dapat dianggap sebagai “sistem peringatan awal” yang akan membantu pengambilan keputusan lebih awal kapan seorang ibu harus dirujuk, dipercepat, atau diakhiri persalinannya. (Ujiningtyas, 2009)
1. Tujuan partograf
Menurut Sumarah, dkk (2008), tujuan partograf adalah:
a. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan memeriksa pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan dalam.
b. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, dengan demikian dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
2. Komponen Partograf
a. Catatan janin
b. Catatan kemajuan persalinan
c. Catatan ibu (Ujiningtyas, 2009)
3. Pengamatan yang dicatat pada partograf
a. Kemajuan persalinan
Pembukaan serviks, turunnya kepala (dengan palpasi perut, seperlimaan, kepala janin yang teraba), his (frekuensi /10 menit, lamanya).
b. Keadaan janin
Frekuensi denyut jantung janin, warna, jumlah dan lamanya ketuban pecah, molase kepala janin.
c. Keadaan Ibu
Nadi, tekanan darah dan suhu, urine (volume, protein, dan aseton), obat-obatan dan cairan intravena, pemberian oksitosin.
1) Denyut jantung janin
Denyut jantung janin dicatat setiap 30 menit.
2) Warna dan adanya air ketuban
Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Gunakan lambang berikut :
U - Selaput ketuban utuh (belum pecah)
J - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur
mekonium
D - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur
darah
K - Selaput ketuban sudah pecah tapi air tidak mengalir lagi
(kering). (JNPK-KR, 2008)
3) Molase (penyusunan kepala janin)
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam :
0 = tulang-tulang kepala janin teripsah, sufura dengan mudah
dapat dipalpasi
1 = tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2 = tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi
masih dapat dipisahkan
3 = tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak bisa
dipisahkan
4) Pembukaan serviks
Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam. Beri tanda untuk temuan-temuan dan pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada.
5) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), diberi tanda “O” pada garis waktu yang sesuai.
6) Jam dan waktu
Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
7) Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit”, disebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi, setiap 30 menit raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik, nyatakan kontraksi dengan :
Beri titik-titik dikotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang kurang dari 20 detik.
Beri garis-garis dikotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya 20 – 40 detik.
Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yag lebih dari 40 detik.



6) Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang diberikan pervolume cairan iv dan dalam satuan tetesan per menit.
7) Obat-obatan lain
Catat obat yang diberikan
8) Nadi
Nadi Ibu dicatat setiap 30 menit
9) Tekanan darah
Tekanan darah Ibu dicatat setiap 4 jam
10) Suhu
Temperatur tubuh Ibu dicatat setiap 2 jam
11) Volume urine, protein, dan aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urine Ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali Ibu berkemih)

2.3 Nifas
2.3.1 Pengertian
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Saifuddin, 2006)
Masa puerperium atau masa nifas adalah mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali sperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosatro, 2007)
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan palsenta keluar dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan dengan melahirkan. (Suherni, 2009)

2.3.2 Diagnosis
Masa nifas normal jika involusi uterus, pengeluaran lochea, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis normal. (Saifuddin, 2004)
a. Keadan gawat darurat pada ibu seperti perdarahan, kejang dan pana
b. Adanya penyulit/masalah ibu yang memerlukan rujukan seperti abses payudara

2.3.3 Tahapan Masa Nifas
Adapun tahapan – tahapan masa nifas (post partum/puerperium) menurut (Suherni,dkk,2009) yaitu :
1. Puerperium dini
Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial
Masa kepulihan menyeluruh dari organ – organ genital, kira – kira antara 6 – 8 minggu.
3. Remot puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikas.

2.3.4 Perubahan fisiologi pada masa nifas
2.3.4.1 Perubahan sistem Reproduksi
1. Perubahan Uterus
Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plasenta site) sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan dinding uterus, mengalami nekrosis dan lepas. Uterus akan mengalami pengecilan (involusi secara berangsur-angsur sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. (Suherni,2008)
Mengenai tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi sebagai berikut:

Tabel 2.4 TFU dan Berat Uterus menurut masa involusi
Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Sumber : (Suherni, 2008).
Segera setelah persalinan bekas implantasi plasenta berupa luka kasar dan menonjol kedalam kavum uteri, penonjolan tersebut diameternya kira-kira 7,5 cm. Sesudah 2 minggu diameternya berkurang menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam mengecil lagi sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih kembali.
Disamping itu, dari kavum uteri keluar cairan sekret disebut lochia. Ada beberapa jenis lochia, yaitu:
a. Lochia rubra (cruenta): ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua (decidua, yakni selaput lendir rahim dalam keadaan hamil, verniks caseosa (yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda dan sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin), lanugo (yakni bulu halus pada anak yang baru lahir), meconium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas getah kelenjar usus dan air ketuban, berwarna hijau kehitaman) selama 2 hari pasca persalinan.
b. Lochia sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
c. lochia serosa: berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
d. Lochia alba; cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2 minggu.
e. Lochia purulenta; ini karena terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f. Lochiotosis: Lochia tidak lancar keluarnya.
2. Perubahan vagina dan perineum
a. Vagina
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.
b. Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.
c. Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan berikutnya. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) bukanlah penjahitan dan perawatan dengan baik. (Suherni, 2008)
2.3.4.2 Perubahan pada sistem pencernaan
Selama persalinan, motilitas lambung berkurang terutama akibat nyeri, rasa takut dan obat narkotika. Hal ini akan kembali normal pada fase 6 minggu setelah melahirkan. Namun, pada nifas dini, penurunan tonus otot dan motilitas saluran cerna dapat mengakibatkan relaksasi abdomen, peningkatan distensi gas, dan konstipasi segera setelah melahirkan.
Defekasi pertama biasanya terjadi dalam 2 atau 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi mungkin akan terjadi demam. Jika terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi obat laksantia dan diadakan mobilisasi sedini-dininya. (Wiknjosatro, 2007)
2.3.4.3 Perubahan sistem perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada:
a. Keadaan/ status sebelum persalinan
b. Lamanya partus kala 2 dilalui
c. Besarnya tekanan kepala yang menkan saat persalinan.
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistoscopie (sistoskopik) segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hiperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering terjadi extravasi (extravasation, artinya keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan kemukosa).
2.3.4.4 Perubahan sistem muskuloskeletal atau diatesis rectie abdominis
1. Setiap wanita nifas memiliki derajat diathesis/konstitusi (yakni keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tetentu). Kemudian demikian juga adanya rectie/ muskulus rektus yang terpisah dari abdomen. Seberapa diastesis terpisah ini tergantung dan beberapa faktor termasuk ambulasi (bisa berjalan) 4-8 jam post partum. Ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi dan meningkatkan cara pandang emosional relaksasi dan mobilisasi artikulasi pelvic terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan. Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastrointestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan. Jumlah sel-sel otot tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri jelas berkurang ukurannya.
2. Abdominis dan peritonium
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang membungkus sebagian besar dan uterus, membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat lebih kendor untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus selama hamil. Pemulihannya harus dibantu dengan cara berlatih. Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan karena teregang begitu lama. Namun demikian umumnya akan pulih dalam waktu 6 minggu. (Suherni, 2008)
2.3.4.5 Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas
1. Suhu badan
Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit, antara 37,2 oC – 37,5oC. Kemungkinan disebabkan dari aktivitas payudara.
Bila kenaikan mencapai 38oC pada hari kedua sampai hari-hari berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.

2. Denyut Nadi
Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/mnt, yakni pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama post partum.
Pada ibu yang nervus nadinya bisa cepat, kira-kira 110x/mnt. Bisa juga terjadi gejala shock karena infeksi khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.
3. Tekanan darah
a. Tekanan darah < 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari pos partum. b. Bila tekanan darah menjadi rendah menunjukkan adanya perdarahan post partum. Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, merupakan petunjuk kemungkinan adanya pre-eklampsi yang bisa timbul pada masa nifas. Namun hal ini seperti itu jarang terjadi. 4. Respirasi a. Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat b. Bila ada respirasi cepat pospartum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan tanda-tanda syok. (Suherni, 2008)

2.3.5 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Menurut Siti (2009) Tujuan dari pemberian asuhan kebidanan pada masa nifas adalah:
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi
2. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara, manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi sehari-hari
4. Memberikan pelayanan KB
5. Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali. Kunjungan ini bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk mencegah, mendeteksi, serta menangani masalah-masalah yang terjadi

2.3.6 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Menurut Suherni, dkk (2009), frekuensi kunjungan, waktu kunjungan dan tujuan kunjungan masa nifas yaitu :
1. Kunjungan pertama, waktu 6 – 8 jam setelah post partum
Tujuan :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan yaitu atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d. Pemberian ASI awal
e. Memberi supervisi kepada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Bila ada bidan atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama
2. Kunjungan kedua, waktu 6 hari post partum
Tujuan :
a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal
b. Evaluasi adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda – tanda adanya penyulit
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai hal – hal berkaitan dengan asuhan pada bayi
3. Kunjungan ketiga, waktu 2 minggu post partum
Tujuan :
Sama kunjungan seperti hari ke 6
4. Kunjungan keempat, waktu 6 minggu post partum
a. Menanyakan penyulit – penyulit yang ada
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini

2.3.7 Perawatan Masa Nifas
1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan dan hari ke-4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka-luka.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur sayuran dan buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi gerak keras dapat diberikan obat pencahar per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5. Perawatan payudara (mamma)
Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila payudara bengkak, maka penatalaksanaannya yaitu :
a. Keluarkan ASI secara manual/ASI tetap diberikan kepada bayi
b. Menyanggapayudara dengan bra yang dapat menyokong payudara dari bawah
c. Kompres dengan kantong es (jika perlu)
d. Pemberian analgetik
e. Pantau suhu tubuh
f. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pengobatan
6. Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sesak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu :
a. Proliferasi jaring pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah
b. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum
c. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas
d. Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesterone hilang. Maka timbul pengaruh hormone laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan
7. Cuti hamil dan bersalin
Menurut undang-undang bagi wanita bekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah bersalin.

2.3.8 Kebutuhan dasar ibu nifas
Menurut Suherni (2008), kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan pada masa nifas, yaitu:
1. Gizi
Ibu nifas dianjurkan untuk:
a. Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat
b. Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6 bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400 kalori.mengonsumsi tablet zat besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari
c. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 IU. Pemberian vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak
2. Kebersihan diri
Ibu nifas dianjurkan untuk:
a. Menjaga kebersihan seluruh tubuh
b. Menganjurkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
c. Menyarankan ibu mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/ BAK, paling tidak dalam waktu 3-4 jam supaya ganti pembalut
d. Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum menyentuh daerah kelamin
e. Anjurkan ibu untuk sering menyentuh luka episiotomi dan laserasi
3. Istirahat dan tidur
a. Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan
b. Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur
c. Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan
d. Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam
Kurang istirahat ibu nifas dapat berakibat:
1) Mengurangi jumlah ASI
2) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan
3) Depresi
4. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu takut untuk bergerak, karena dengan ambulasi dini (bangun dan bergerak setelah beberapa jam melahirkan) dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk semula.
5. Hubungan Seks dan Keluarga berencana
a. Hubungan Seks
b. Aman setelah darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri
c. Ada kepercayaan/ budaya yang memperbolehkan melakukan hubungan seks stelah 40 hari atau 6 minngu, oleh karena itu perlu dikompromi antara suami dan istri
6. Keluarga Berencana
a. Pada dasarnya ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui eksklusif atau penuh 6 bulan dan ibu belum mendapatkan haid (metode amenore laktasi)
b. Meskipun setiap metode kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan kontrasepsi lebih aman
c. Metode hormonal, khusunya kombinasi oral (estrogen-progesteron) bukanlah pilihan pertama bagi ibu yang menyusui, karena dapat mempersingkat pemberian ASI.
7. Eliminasi :
a. Buang air kecil (BAK)
1) Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK spontan, kebanyakan ibu bisa berkemih spontan dalam waktu 8 jam
2) Urine dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam waktu 12-36 jam setelah melahirkan
3) Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu.
b. Buang air besar (BAB)
1) BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena diet cairan, obat-obatan analgetik, dan perineum yang sangat sakit
2) Bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberi obat laksantia
3) Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi BAB
4) Asupan cairan yang adekuat dan diet tinggi serat sangat dianjurkan
8. Pemberian ASI/ LAKTASI
Hal-hal yang perlu diberitahukan:
a. Menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit bayi telah disusukan
b. Memberikan ASI eksklusif selam 6 bulan
c. Menyusui bayi sesering mungkin

9. Kebiasaan yang tidak bermanfaat dan bahkan membahayakan
a. Menghindari makanan yang berprotein seperti telur, ikan arena ibu ,menyusui membutuhkan tambahan protein
b. Penggunaan bebat perut setelah melahirkan
c. Memisahkan ibu dan bayi dalam masa yang lama satu jam post partum

2.4 Bayi Baru Lahir
2.4.1 Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Depkes, 2005)
Menurut (Lia, 2005), Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dengan presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat pada usia kehamilan genap 37 minggu, sampai dengan 42 minggu dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai apgar ≥ 7 dan tanpa cacat bawaan.

2.4.2 Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera stelah lahir adalah :
1. Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir penolong harus melakukan upaya pencegahan sebagai berikut :
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.
b. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi dan apabila memandikan bayi.
c. Pastikan semua alat yang bersentuhan dengan bayi sterill dan bersih. (Prawirohardjo, 2008)
2. Penilaian Awal
Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan dengan melakukan penilaian awal, sebagai berikut:
a. Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (0-30 detik).
b. Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosis dan tentukan rencana untuk asuhan bayi baru lahir.
c. Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan atau menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:
1) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
2) Apakah bayi bernapas spontan?
3) Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
4) Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?
5) Apakah ini kehainilan cukup bulan?
d. Bila kelima pertanyaan tersebut jawabannya “Ya”, maka bayi dapat diberikan kepada ibunya untuk segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di lakukan asuhan bayi baru lahir normal sebagai berikut:
1) Keringkan bayi dengan kain/handuk yang bersih, kering dan hangat, kemudian lingkupi tubuh bayi dengan kain/handuk kering dan hangat yang lain.
2) Bersihkan mulut dan hidung bayi secukupnya. Tidak perlu dilakukan penghisapan lendir.
3) Hangatkan tubuh bayi (selimuti dengan kain yang kering dan hangat, beri tutup kepala).
4) Berikan bayi pada ibunya untuk membangun hubungan emosional dan pemberian ASI secara dini.
(JNPK-KR, 2008)
3. Memotong dan merawat tali pusat
Klem dan potong tali pusat dengan cara:
a. Klem tali pusat dengan kedua klem, pada titik kira-kira 2 cm dan 3 cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem tersebut.
b. Potonglah tali pusat diantara klem sambil melindungi bayi dan gunting dengan tangan kiri anda.
c. Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Ganti sarung tangan anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan gunting yang steril atau DTT.
d. Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat. (Wiknjosastro, 2005)
4. Mempertahankan suhu tubuh bayi
a. Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
b. Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit
c. Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi
d. Apabila suhu tubuh bayi kurang dari 36,50c, segera hangatkan bayi tersebut
5. Kontak dini dengan ibu
Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan bayi penting untuk :
a. Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir
b. Ikatan batin pemberian ASI
c. Anjurkan ibu menyusui bayinya, apabila bayi telah “Siap” (dengan menujukkan refleks rooting). Jangan paksakan bayu untuk menyusu.
d. Memberi vitamin K
Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberrikan vitamin K peroral 1 mg/ hari selama 3 hari, sedangkan bayi yang risiko tinggi diberikan vitamin K parental dengan dosis 0,5-1 mg/hari.
e. Memberi obat tetes/salep mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamida (PMS). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atu Neosporin dan pangsung diteteskan apada mata bayi segera setelah bayi lahir.
f. Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya mungkin lebih dari satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatkannya sampai bayi dipulangkan . (Saifuddin, 2002)

2.4.3 Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
1. Pemeriksaan tanda – tanda vital
Laju jantung bayi baru lahir normal yaitu 110 - 180 x/mnt, Suhu normal yaitu 36,5 ͦ c -37,5 ͦ c, dan Pernafasan yaitu 40 – 60 x/mnt.
2. Pemeriksaan antropometri
Panjang badan : panjang badan normal yaitu 48 cm – 52 cm
Lingkar kepala : ukuran normalnya 32 – 35 cm
- Circumferentia suboccsipito-bregmatica = 32 cm
- Circumperentia fronto-occipitalis = 34 cm
- Circumperentia mento-occipitalis = 35 cm
Lingkar dada : ukuran normal yaitu 30cm – 33cm
Lingkar lengan atas : ukuran normalnya yaitu 11 – 14 cm
Berat badan : berat badan normal yaitu 2500 gr – 4000 gr
3. Pemeriksaan fisik
Lakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap, dan saat melakukan pemeriksaan gunakan tempat yang hangat dan bersih, cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan.
Pemeriksaan pertama yaitu kepala, menilai apakah adanya molage, benjolan, perdarahan, caput, ubun – ubun (cekung, cembung atau datar). Mata, menilai adanya perdarahan, pus, konjungtiva, sklera, letak simetris/tidak, starbismus/tidak dan tanda – tanda infeksi, refleks mengedip (glabellar) bayi akan mengedipkan mata saat jari mengetuk daerah pangkal hidung. Telinga, menilai adanya cairan/tidak, daun telinga, dan hubungan letak antara mata dan kepala. Hidung, menilai kebersihan, polip, dan cuping hidung. Mulut, menilai bibir simetris/tidak, apakah ada labioskizis/labio palatoskhizis, langit –langit terdapat/tidak, refleks hisap (sucking) dinilai dengan mengamati bayi saat menyusu, refleks menelan (swalow) yaitu apakah bayi menelan saat menyusu, dan refleks mencari (rooting) bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi. Leher, dinilai apakah ada pembengkakan, gumpalan. Dada, menilai bentuk, bunyi jantung, bunyi nafas, pergerakan/retraksi, dan puting susu, bahu, lengan dan tangan, yaitu menilai gerakan dan jumlah jari apakah sindaktili, polidaktili, atau andaktil dan refleks menggenggam (grashping) yaitu lakukan dengan meletakan jari ditelapak tangan bayi apkah bayi menggenggam/tidak, refleks moro lakukan dengan rangsangan suara keras/bertepuk tangan. Perut, menilai bentuk, penonjolan sekitar tali pusat saat menangis, perdarahan tali pusat, tiga pembuluh darah, lembek (pada saat tidak menangis), dan warna. Kelamin laki – laki, testis berada dalam skrotum, penis berlubang dan lubang berada pada ujungnya. Kelamin perempuan, vagina berlubang / tidak, uretra berlubang/tidak, klitoris, labia mayora dan labia minor. Tungkai dan kaki, gerakan, simetris/tidak, jumlah jari, refleks (babinsky) bayi akan meregangkan jarinya saat telapak kaki digores. Punggung, adakah pembengkakan, ada cekungan/ spina bipida. Anus berlubang/tidak. Kulit, menilai verniks (tidak perlu dibersihkan karena menjaga kehangatan tubuh bayi), warna, pembengkakan atau bercak – bercak hitam, tanda –tanda lahir.
4. Konseling
Jaga kehangatan bayi, pemberian ASI, perawatan tali pusat, awasi tanda – tanda bahaya.

2.4.4 Pemantauan Bayi Baru Lahir
Menurut Saifudin ( 2006), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1. 2 jam pertama sesudah kelahiran
Hal-hal yang perlu dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah kelahiran, meliputi :
a. kemampuan menghisap kuat atau lemah
b. bayi tampak aktif atau lunglai
c. bayi kemerahan atau biru
2. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayi
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti :
a. bayi kecil untuk masa kehamilan atau kurang bulan
b. gangguan pernafasan
c. hipotermia
d. infeksi
e. cacat bawaan atau trauma lahir
Menurut WHO expert commite (1970) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran antara hubungan dengan suami isteri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

2.4.5 Inisiasi Menyusui Dini dan ASI Eksklusif
2.4.5.1 Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
1. Pengertian
Inisiasi menyusu dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).
Inisiasi menyusu dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui. Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.
2. Tahap-tahap dalam Inisiasi Menyusu Dini
a. Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi/tidak menggunakan obat kimiawi. Jika ibu menggunakan obat kimiawi terlalu banyak, dikhawatirkan akan terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan menyusu dalam proses inisiasi menyusu dini.
b. Para petugas kesehatan yang membantu Ibu menjalani proses melahirkan, akan melakukan kegiatan penanganan kelahiran seperti biasanya. Begitu pula jika ibu harus menjalani operasi caesar.
c. Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan kulit bayi.
d. Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
e. Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
f. Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
g. Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai
h. Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K dan tetes mata
i. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat-gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.



3. Manfaat IMD
a. Manfaat IMD bagi bayi yaitu :
1) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat, kulit ibu akan menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan risiko kematian karena hypothermia (kedinginan).
2) Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
3) Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di ASI ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
4) Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting untuk pertumbuhan usus. Usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda, tidak siap untuk mengolah asupan makanan.
5) Antibodi dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga menjamin kelangsungan hidup sang bayi.
6) Bayi memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan protein manusia (misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus bayi.
7) Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan.

b. Manfaat IMD bagi ibu
Sentuhan, kuluman/emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting karena:
1) Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan ibu
2) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
3) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang berwarna putih) dapat lebih cepat keluar
2.4.5.2 ASI Eksklusif
1. Manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi
a. Sebagai nutrisi terbaik
b. Meningkatkan daya tahan tubuh
c. Menigkatkan kecerdasan
d. Meningkatkan jalinan kasih saying
2. Manfaat pemberian ASI
a. Bagi bayi :
1) Mengandung antibodi untuk mencegah infeksi
2) Mudah dicerna oleh bayi
3) ASI yang pertama adalah colostrum yang merupakan imunisasi pertama untuk bayi.
4) Mengandung vitamin yang cukup (mineral dan zat besi)
5) Menghindarkan bayi dari alergi
b. Bagi ibu :
1) Membantu ibu memulihkan dari proses persalinannya
2) Membantu membuat rahim berkontaksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan
3) Lebih murah dan ekonomis
4) Merupakan KB alami
5) Mencurahkan kasih sayang pada bayi dan membuat bayi merasa nyaman

2.4.5 Tanda-tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Menurut Pinem (2009), tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
1. Sulit menyusu
2. Letargi (tidur terus sehingga tidak menyusu)
3. Demam (suhu tubuh >38 0C atau hipotermi <36 0C) 4. Tidak BAB atau tidak berkemih setelah 3 hari lahir (kemungkinan bayi mengalami atresia ani), tinja lembek, hijau tua, terdapat lendir atau darah pada tinja 5. Sianosis (biru) atau pucat pada kulit atau bibir, adanya memar, warna kulit kuning (ikterus) terutama dalam 24 jam pertama 6. Muntah terus-menerus dan perut membesar 7. Kesulitan bernafas atau nafas lebih dari 60 kali per menit 8. Mata bengkak dan bernanah atau berair 9. Mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir atau darah 10. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan berdarah 2.5 Manajemen Kebidanan 2.5.1 Pengetian Manajemen Kebidanan Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan bardasarkan teori ilmiah temuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien. (Salmah, 2006) 2.5.2 Proses Manajemen Kebidanan Manajemen kabidanan yang dilakukan dalam asuhan kebidanan yaitu dengan tujuh langkah varney: 1. Pengumpulan Data Dasar Menurut Simatupang (2006), pada langkah pertama dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap yaitu: a. Riwayat kesehatan b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya c. Meninjau cacatan terbaru atau catatan sebelumnya d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. 4. Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data-data yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa secara spesifik masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi sesungguhnya membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian, masalah juga sering menyertai diagnosa. 5. Mengidentifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial dan Mengantisipasi Penanganannya Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila doagnosa/ masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman. 6. Menetapkan Kebutuhan akan Tindakan Segera Langkah ke empat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan. 7. Menyusun Rencana yang Menyeluruh Pada langkah ini direncanakan akan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, oleh karena itu pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya. 8. Pelaksanaan Langsung Asuahan dengan Efisiensi dan Aman Pada langkah ke enam ini rencanakan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan dalam manajemen asuahn bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan meningkatkan mutu dari asuhan klien. 9. Mengevaluasi Pada langkah ke 7 ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah sedang sebagian belum efektif. 2.5.3 Dokumentasi SOAP Menurut Simatupang (2006) yang mengutip pernyataan Varney pendokumentasian dalam bentuk SOAP yaitu : S (Subjektif) Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa sebagai langkah I Varney. O (Objektif) Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien hasil laboratorium dan test diagnostik lain dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan senagai langkah I Varney. A (Assasment) Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi: 1. Diagnosa masalah 2. Anitisipasi Diagnosa / Masalah Potensial 3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3 dan 4 Varney P (Planning) Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan, Implementasi (I) dan Evaluasi (E) berdasarkan Assasment sebagai langkah 5,6 dan 7 Varney. BAB III TINJAUAN KASUS 3.1 Manejemen Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Kunjungan ANC Ke-1 pada tanggal 13 Mei 2011 pukul 08.50 WIB. Di BPS Bd. Een SUBYEKTIF Ny. S usia 22 tahun, suku Sunda, agama islam, pendidikan terakhir SD, pekerjaan ibu rumah tangga. Nama suami Tn. S usia 26 tahun, suku Jawa, agama islam, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan karyawan, Penghasilan ±Rp.30.000 per hari. Bertempat tinggal di kp.Cihuni RT. 03 RW. 03 Pagedangan. Ibu datang ke BPS Bd. Een, untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, dan ini merupakan kontak pertama dengan pasien, untuk selanjutnya agar terbina hubungan yang baik. Dilakukan anamnesa, dengan keluhan utama mengeluh pinggang terasa panas. Riwayat Menstruasi: Haid pertama usia 12 tahun dengan siklus 28 hari, banyaknya darah + 150 cc (3 kali ganti pembalut) dalam sehari, lamanya 7 hari, sifat darah encer, dan tidak pernah merasa sakit perut pada saat haid (Dysmenorhoe). Riwayat kehamilan ini : ibu mengatakan HPHT : 23 Agustus 2010. Tafsiran persalinan 30 Mei 2011. Pada waktu hamil muda 3 kali ANC dibidan teratur dengan keluhan mual dan muntah, penyuluhan yang diberikan cara mengatasi mual dan muntah pada hamil muda. Pergerakan anak pertama kali dirasakan oleh ibu umur kehamilan 16 minggu. Pergerakan anak dalam 24 jam lebih dari 10 kali lamanya ±10 menit. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu: yaitu ibu mengatakan ini hamil kedua, anak pertama lahir tahun 2005, lahir secara normal oleh bidan, jenis kelamin perempuan BB:3100, PB : 46 cm, keadaan sekarang baik, diberi ASI sampai usia 2 tahun. Kebiasaan sehari-hari : nutrisi, pola makan ibu 3 x/hari, dengan porsi sedang, dengan menu seimbang (nasi, sayur, lauk pauk, buah-buahan, dan susu). Eliminasi : BAB 1 kali dan BAK dari 7 kali. Personal Hygiene baik, gosok gigi : 3 x/hari menggunakan pasta dan sikat gigi, mandi : 2 kali/hari menggunakan air bersih dan sabun mandi. Vulva Hygiene : 5 kali/hari menggunakan air bersih. Pola istirahat ibu :siang ± 1 jam, tidur malam + 8 jam, pola olahraga : tidak pernah olahraga. Hubungan seksual 1 kali/minggu. Ganti pakaian 2 kali/hari. Ibu tidak merokok dan tidak mengkonsumsi narkotika. Ibu mengatakan imunisasi TT tidak dilakukan karena pada usia kehamilan 5-7 bulan ibu tidak memeriksakan kehamilan, riwayat KB : kontrasepsi yang pernah digunakan yaitu KB suntik 3 bln selama 4 thn. Riwayat penyakit sistematik : ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit seperti : jantung, ginjal, asthma, hepatitis, DM, dan epilepsi. Serta ibu tidak pernah di operasi. Riwayat penyakit keturunan seperti : DM, asthma, hemophilia, kelainan jiwa tidak ada. Riwayat keturunan kembar tidak ada. Riwayat operasi : ibu mengatakan tidak pernah dioperasi. Riwayat psikososial : ibu menerima kehamilan ini, ibu mengaku hubungan antara ibu, suami dan keluarga baik dan keluarga sudah menyiapkan keperluan kelahiran bayi baik dari mental, material dan spiritual. Ibu mengaku tidak ada kepercayaan keluarga yang berhubungan dengan kehamilan/ persalinan ini. Jumlah keluarga dalam satu rumah 5 orang, pengambilan keputusan dalam keluarga secara bersama. Jaminan Kesehatan Umum / ASKES / Perusahan / Jamkesmas / Jamkesos / Jamsostek / dan lain-lain ibu mengatakan tidak punya. Riwayat perkawinan : ibu mengaku ini pernikahan pertama, lamanya 5 tahun, usia ibu saat menikah yaitu 17 tahun, usia suami saat menikah yaitu 21 tahun. OBJEKTIF Keadaan Umum : Baik, Kesadaran : Composmentis, Keadaan Emosional: Stabil, Tanda - tanda Vital: Tekanan Darah : 130/90 Mmhg, Nadi : 82 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,5°C, Lingkar lengan atas : 36 cm, Tinggi Badan : 153 cm, Berat Badan : 81 kg (sekarang), Berat Badan : 65 kg (sebelum hamil). Pemeriksaan fisik pada kepala, rambut bersih, distribusi merata, warna hitam. Muka, oedem tidak ada oedem, cloasma gravidarum tidak ada. Pada mata, kelopak mata simetris, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning. hidung bersih tidak ada polip, telinga simetris tidak ada pengeluaran serumen. Mulut dan gigi, bibir tidak ada stomatitis, lidah bersih, gigi caries tidak ada, hygiene baik. Leher, kelenjar tyroid tidak ada pembesaran, kelenjar getah bening tidak ada pembesaran, tumor tidak ada. Dada, Jantung bunyi jantung I dan II terdengar tunggal, Paru suara nafas vesikuler, Mamae simetris tidak ada, benjolan atau tumor, puting susu menonjol, areola mamae hyperpigmentasi, kolostrum sudah keluar. Akila tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tidak ada nyeri. Punggung, posisi tulang belakang lordosis dan tidak ada nyeri. Pinggang tidak ada nyeri. Ekstermitas, oedem tangan / jari tidak ada, oedem tibia / kaki tidak ada, betis merah / lembek / keras tidak ada, varices tungkai tidak ada, tungkai kiri dan kanan simetris, refleks patela kiri dan kanan positif. Pemeriksaan obstetri, Abdomen : Oedem tidak ada, pembesaran perut sesuai umur kehamilan, bentuk perut membesar, pembesaran vena tidak ada, línea nigra ada, striae ada, luka operasi tidak ada, asites tidak ada. Palpasi abdomen, Kontraksi : braxton hiks negatif, tinggi fundus uteri 33 cm, leopold I : teraba bulat, lembek, dan tidak melenting di fundus (bokong). Leopold II : teraba bagian panjang seperti papan disebelah kanan perut ibu (puka), dan bagian-bagian kecil disebelah kiri perut ibu. Leopold III : teraba bulat, keras, dan melenting didaerah sympisis (kepala), dan kepala masih bisa digoyangkan. Leopold IV : bagian terbawah janin masih belum masuk Pintu Atas Panggual (PAP). TBJ (33-13) x 155 = 3100 gram, Auskultasi DJJ positif, frekuensi 135 x/menit teratur, punctum maksimum disatu tempat terdapat dua jari diatas pusat kuadran kanan. Pemeriksaan anogenital (inspeksi vagina), vagina tidak ada kelainan, tidak ada varises, dan tidak ada oedem, kebersihan baik, dan tidak ada luka parut. Pada anus tidak terdapat hemorhoid. ASSASMENT Ny. N umur 22 tahun G2 P1 A0 hamil 37 minggu 6 hari. Janin tunggal, hidup, presentasi kepala. PLANNING OF ACTIONS - Membina hubungan saling percaya antara klien dan bidan. - Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu dan janin baik : TD : 130/90 Mmhg, suhu : 36,5°C, N : 82 x/menit, R : 20 x/menit, BB : 81 kg, DJJ (+), frekuensi : 140 x/menit, teratur. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan. - Memberitahu ibu tanda-tanda persalinan, yaitu keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, timbul kontraksi yang sering/teratur dan semakin kuat, timbul rasa ingin meneran seperti ingin BAB. Ibu mengerti tanda – tanda persalinan. - Menganjurkan ibu untuk makan dengan menu seimbang seperti nasi + lauk + sayur dan buah. Ibu mau mengkonsumsi makanan yang dianjurkan. - Memberitahu ibu untuk mengambil posisi yang senyaman mungkin saat tidur, anjurkan untuk miring ke kiri sambil suami atau keluarga memassage pinggang jika rasa nyeri timbul, dan memberikan ibu obat (ROB 10 dan Neurodec 10), diminum setelah makan 1x1, untuk mengatasi keluhan nyeri. Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia melakukannya. - Menganjurkan ibu untuk USG pada hari minggu tanggal 15 mei 2011, untuk mengetahui keadaan dan posisi janin. Ibu mau USG hari minggu. Kunjungan ANC Ke-2 pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 12.30 WIB. Di BPS Bd. Een SUBYEKTIF Ibu datang ke BPS untuk kunjungan ulang yang kedua. Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan pergerakan janin aktif. OBJEKTIF Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil. Tanda - tanda Vital, Tekanan Darah : 130/90 Mmhg, Nadi : 80 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,3°C, Lingkar lengan atas : 36 cm, Tinggi Badan : 153 cm, Berat Badan : 81 kg (sekarang), Berat Badan : 65 kg (sebelum hamil). Hasil pemeriksaan pada mata, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Kolostrum sudah keluar, puting bersih. Abdomen, kontraksi : braxton hiks negatif (-), leopold I : tinggi fundus uteri 33 cm, teraba bulat, lembek, dan tidak melenting di fundus (bokong). Leopold II : teraba bagian panjang seperti papan disebelah kanan perut ibu (puka), dan bagian-bagian kecil disebelah kiri perut ibu. Leopold III: teraba bulat, keras, dan melenting didaerah sympisis (kepala), dan kepala masih bisa digoyangkan. Leopold IV : bagian terbawah janin belum masuk Pintu Atas Panggul (PAP). TBJ : (33-13) x 155 = 3100 gram, DJJ positif, frekuensi 130 x/menit teratur, punctum maksimum disatu tempat terdapat dua jari diatas pusat kuadran kanan. ASASSMENT Ny. N umur 22 tahun G2 P1A0 hamil 38 minggu 3 hari. Janin tunggal, hidup, presentasi kepala. PLANNING OF ACTION - Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik, TD : 130/90 MmHg, N : 80 x/menit, S : 36,30C, R : 20 x/menit, pada saat ini usia kehamilan ibu 38 minggu 3 hari, kepala janin belum masuk PAP, DJJ 140 x/menit, teratur. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan. - Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan, yaitu: pandangan kabur, pusing yang berlebihan, nyeri abdomen yang berlebih, gerakan janin berkurang atu bergerak tidak seperti biasanya, bengkak pada muka dan tangan, perdarahan pervaginam. Ibu mengetahui tentang tanda-tanda bahaya kehamilan - Mengingatkan kembali tanda-tanda persalinan pada ibu, yaitu keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, timbul kontraksi yang sering/teratur dan semakin kuat, timbul rasa ingin meneran seperti ingin BAB. Ibu mengetahui tanda-tada persalinan. Dan meminta ibu untuk menyebutkan kembali tentang tanda-tanda persalinan. Ibu mengetahui tentang tanda-tanda persalinan dan bisa menyebutkannya kembali. - Memberitahu tentang persiapan persalian, yaitu dana, transportasi, tempat bersalin, penolong persalinan, keluarga, pakaian ibu dan bayi (Kain panjang 4 buah, Pembalut wanita, Handuk, waslap, alat mandi, alat make up, Pakaian terbuka depan, gurita ibu, BH, Pakaian bayi + bedongan, minyak telon, dan Tas plastik). Ibu sudah mempersiapkan keperluan pesalinan. - Mengingatkan ibu untuk kunjungan ulang 1 minggu kemudian, yaitu tanggal 25 Mei 2011 atau segera jika ada keluhan. Ibu akan memeriksakan lagi kehamilannya 1 minggu kemudian. 3.2 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Persalinan KALA I Pada Tanggal 27 Mei 2011 Pukul 16.50 WIB, Di BPS Bd. Een SUBJEKTIF Ny. S umur 22 tahun, datang ke klinik hamil 40 minggu, Ibu mengeluh perut terasa mulas sejak pukul 06.00 WIB, mengeluh sakit perut yang menjalar kepinggang, dan keluar lendir bercampur darah sejak pukul 16.30 WIB. Gerakan janin masih dirasakan kuat oleh klien dalam 24 jam terakhir. OBJEKTIF Keadaan umum : baik, Kesadaran : compos menti, Keadaan emosional : stabil. Tekanan darah :130/90 mmHg, Nadi : 82 x/menit, Pernapasan : 24 x/menit, Suhu : 36,50C. Pemeriksaan fisik, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning. Aerola kolostrum sudah keluar, puting susu bersih. Palpasi abdomen, TFU 32 cm, Leopold I : teraba bulat, lembek, dan tidak melenting di fundus (bokong). Leopold II : teraba bagian panjang seperti papan disebelah kanan perut ibu (puka), dan bagian-bagian kecil disebelah kiri perut ibu. Leopold III :teraba bulat, keras, dan melenting didaerah sympisis (kepala), dan kepala tidak bisa digoyangkan. Leopold IV : bagian terbawah janin sudah masuk PAP, penurunan kepala 2/5 bagian. TBJ : (32-11) x 155 = 3255 gram. Auskultasi DJJ : positif, frekuensi 140 x/menit teratur, Punctum maksimum : disatu tempat terdapat dua jari diatas pusat kuadran kanan. Kontraksi : His 4x10 lamanya > 40 detik. Kandung kemih : kosong.
Pemeriksaan Dalam (PD) dilakukan atas indikasi untuk menilai kemajuan persalianan pukul 17.00 Oleh mahasiswa (Muriah). Vulva vagina tidak ada kelainan, terdapat pengeluaran lendir bercampur darah, Portio tipis, Konsistensi lunak, Pembukaan 8 cm, Ketuban positif, Penurunan kepala HIII, tidak ada molage dan penyusupan.
Pemeriksaan penunjang : HB 10 gr %, protein urin negatif, glukosa dalam urin negatif. Ekstremitas refleks positif kiri/kanan, tidak ada oedem

ASASSMENT
Ny. S usia 22 tahun G2P1A0 hamil 40 minggu inpartu kala I fase aktif.
Janin tunggal, hidup, presentasi kepala.

PLANNING OF ACTIONS
- Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga, TD :130/90 mmHg, N : 82 x/menit, R : 24 x/menit, S : 36,50C, DJJ (+) 140 x/menit, pembukaan : 8 cm, bahwa keadaan ibu dan janin baik dan sudah mulai masa persalinan. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
- Mengajarkan ibu teknik relaksasi pada saat ada his yaitu dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Ibu mau melakukan teknik relaksasi.
- Menanyakan pada ibu siapa yang akan mendampingi ibu dalam persalinan. Ibu ingin didampingi orang tua.
- Memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi dengan memberikan makan atau minum pada saat tidak ada his. Keluarga membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
- Mempersiapkan peralatan:
o Partus set: ½ kocher, 1 gunting episiotomy, 2 arteri klem, 1 gunting tali pusat, benang tali pusat/klem penjepit tali pusat, kateter, stand doek 1 buah, kassa steril.
o Heacting set: needle holder, needle hacting, cat gut, gunting, pinset eirugis, pinset anatomi.
o Obat-obatan: oksitosin, epidosin, methergin, lidokain, Vit. K dan HB0.
o Kassa, handscon steril, kom berisi betadin, spuit 3 cc, underpad, piring plasenta, bengkok, larutan klorin dan larutan DTT, sucksen (alat penghisap lendir), handuk, celmek, topi, masker, kacamata, dan sepati boot.
o Alat resusitasi : meja bayi, 3 kain, deele, tabung, balon sungkup serta katup, dan lampu sorot.
o Perlengkapan ibu dan bayi: pakaian ibu, kain panjang, celana dalam, pembalut dan gurita untuk ibu, pakaian bayi, kain bedong.
- Memberikan support mental, spiritual. Ibu telah diberi semangat dan ibu telah diberi nasihat untuk berdoa.
- Memantau kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf, mengobservasi his, DJJ, Nadi tiap 30 menit. Dan observasi tekanan darah dan suhu tiap 4 jam. Hasil terlampir di partograf.
- Melakukan PD ulang 4 jam kemudian atau apabila ada indikasi. Membuat keputusan klinik partus pervaginam.
- Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dalam partograf.

KALA II Pukul 17.25 WIB

SUBJEKTIF
Ibu mengatakan mulas bertambah sering dan ada dorongan untuk meneran.

OBJEKTIF
Keadaan umum baik, Tekanan Darah 130/90 mmHg, His 5x/10’ lamanya >40” , DJJ 140 x/menit. Kandung kemih kosong.
Pemeriksaan dalam dilakukan atas indikasi menilai kemajuan persalinan pukul 17.25 WIB oleh Mahasiswa (Muriah), Portio tidak teraba, Pembukaan lengkap, Ketuban positif, presentasi kepala, UUK kanan depan, molage tidak ada, penurunan di HIII+.

ASSASMENT
Ny. S, G2P1A0 hamil 40 minggu inpartu kala II
Janin tunggal, hidup, presentasi belakang kepala


PLANNING OF ACTION
- Menginformasikan hasil pemeriksaan pada ibu, keadaan ibu dan janin baik pembukaan sudah lengkap. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
- Melakukan amniotomi, pukul 17.26 WIB ketuban dipecahkan.
- Melakukan persiapan diri menolong persalinan, celemek , masker dan sendal tertutup sudah di pakai
- Menganjurkan ibu meneran yang baik bila ada his dengan cara kepala di tekuk, dagu menempel didada, mata melihat kearah perut dan kedua tangan merangkul kedua paha hingga siku serta tarik napas panjang lalu menekan sekuat tenaga ibu seperti BAB. Ibu bersedia melakukan yang dianjurkan oleh bidan
- Menganjurkan suami untuk memberikan asupan cairan pada saat his mereda. Ibu minum air putih
- Memimpin persalinan sesuai APN dan menganjurkan ibu untuk meneran jika ada his. Petugas memimpin persalinan
- Menolong kelahiran bayi dengan tangan melindungi perineum,sedangkan tangan kiri menahan suboksiput agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat saat kepala lahir, maka lahirlah berturut-turut UUB, dahi, hidung, mulut dan dagu. Cek adanya lilitan tali pusat pada leher janin,kepala mengadakan putaran paksi luar,kepala dipegang secara biparietal, tarik kebawah untuk melahirkan bahu depan, tarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang, tangan kanan menyangga bahu dan leher bayi, tangan kiri tetap berada didepan vulva dan menulusuri dari bahu sampai bokong, kemudian nilai bayi. Bayi lahir spontan pukul 17.35 WIB, langsung menangis, seluruh badan kemerahan, tonus otot aktif.
- Melakukan IMD dengan mengeringkan bayi terlebih dahulu kecuali pada daerah tangan dan jari, bayi di letakkan di dada ibu selama 1 jam sambil menganjurkan ibu mengusap punggung bayi. IMD telah dilakukan.



KALA III Pukul : 17.35 WIB

SUBJEKTIF
Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya, dan ibu mengatakan perutnya terasa mulas.
OBJEKTIF
Keadaan umum ibu tampak lelah. TFU sepusat, Kandung kemih kosong, Kontraksi uterus baik, Perdarahan + 100 cc, Tampak tali pusat di vulva.

ASASSMENT
Ny. S usia 22 tahun P2A0 partus kala III

PLANNING OF ACTIONS
- Memeriksa fundus untuk memastikan tidak ada janin kedua. janin tunggal
- Melakukan menejemen aktif kala III. menyuntikan oksitoksin 10 unit secara IM di1/3 paha kanan ibu dibagian luar diberikan kurang dari 2 menit atau segera setelah bayi lahir. Ibu sudah disuntik oksitoksin 10 UI secara IM. Mengobservasi tanda – tanda pelepasan placenta yaitu : uterus bulat globular, tali pusat memanjang, dan terdapat semburan darah tiba-tiba.
- Melakukan peregangan tali pusat terkendali, tangan kiri di atas symphisis sambil menekan ke arah dorso kranial, sambil melihat tanda- tanda pelepasan plasenta. Pukul 17.50 WIB plasenta lahir spontan lengkap.
- Memeriksakan kelengkapan plasenta. Plasenta lahir lengkap, dengan insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat kurang lebih 45 cm, ketebalan kurang lebih 3 cm, selaput korion dan amnion lengkap, dan diameter plasenta 15 cm, kotiledon lengkap.
- Menilai ulang uterus dan memastikan kontraksi dengan keadaan baik dan mengevaluasi perdarahan pervaginam. Uterus berkontraksi dengan baik.


KALA IV Pukul 17.55 WIB

SUBJEKTIF
Ibu mengatakan masih lemas dan perut masih terasa mulas.dan merasa senang dengan kelahiran bayinya.

OBJEKTIF
Keadaan umum : baik, Kesadaran : composmentis, Tekanan Darah: 130/90 mmHg, Nadi : 84 x/menit, Pernapasan : 20 x/menit, Suhu :36˚C
Kontraksi uterus : baik, Kandung kemih : kosong. TFU : 1 jari dibawah pusat. Perdarahan : + 50 cc, perineum terdapat ruptur grade II.

ASSASMENT
Ny. S P2A0 partus kala IV

PLANNING OF ACTIONS
- Memeriksa laserasi jalan lahir. Terdapat laserasi grade II.
- Melakukan penjahitan perineum, perineum jahit jelujur dan satu-satu.
- Membersihkan badan ibu, ganti pakaian ibu dan pakaikan pembalut serta gurita. Ibu sudah dibersihkan, pakaian sudah diganti dan sudah dipasang pembalut serta gurita.
- Mengajarkan ibu dan keluarga memassage fundus, dan lakukan massage bila fundus terasa lembek. Ibu dan keluarga tahu cara memassage fundus.
- Memberikan penjelasan bahwa mulas yang dirasakan pada saat ini adalah normal karena rahim ibu berkontraksi pada keadaan semula sebelum hamil. Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan.
- Memberikan nutrisi pada ibu. Ibu makan 1 porsi habis dan minum 1 gelas.
- Mengobservasi TTV, kontraksi dan perdarahan tiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan tiap 30 menit sekali pada 1 jam kedua. Hasil terlampir di partograf.
- Melakukan rawat gabung ibu dan bayi. Petugas akan melakukan rawat gabung. Pukul 19.30 WIB Ibu dipindahkan keruang perawatan nifas dan rawat gabung dengan bayinya.

3.3 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas
Post partum 2 jam, Tanggal 27 Mei 2011 Pukul 19 30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan perutnya masih terasa mules dan ibu masih merasakan lelah karena kurang istirahat. Pada saat penggalian informasi ibu belum mengetahui tentang hal - hal yang dapat mempercepat pemulihan kondisi ibu pasca persalinan.

OBYEKTIF
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, status emosional stabil. Tanda-tanda vital : tekanan darah 130/90 mmHg, suhu 36,5 oC, nadi : 82 x/menit, pernapasan 20 x/menit.
Pemeriksaan fisik, muka tidak pucat, pada mata konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, pada leher tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan kelenjar getah benimg. Payudara simetris, bersih, putting susu tenggelam, kolostrum belum keluar, tidak ada pembengkakan pada payudara ibu. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, pada anogenital terdapat lochea rubra yang berwarna merah dan berbau khas, perdarahan normal, konsisitensi cair agak kental, perineum terdapat luka jahitan dan telah tertutup kassa dengan betadine, pada ekstermitas tidak terdapat oedema dan varises, pemeriksaan penunjang tidak dilakukan.

ASASSMENT
Ny. S umur 22 tahun P2A0 postpartum 2 jam

PLANING OF ACTIONS
- Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu baik yaitu tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 82 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36,4oC, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari di bawah pusat. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
- Menjelaskan pada ibu bahwa mules yang dirasakan adalah hal yang normal yang di sebabkan karna kontraksi uterus yang dapat membuat keadaan uterus kembali ke keadaan sebelum hamil dan rasa mules membuat ibu tidak mengalami perdarahan. Ibu mengerti dengan penjelasan yang di berikan oleh bidan.
- Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini dengan cara miring kiri / kanan, kemudian belajar duduk, dan setelah ibu tidak merasakan pusing ibu boleh berdiri karna hal ini dapat membantu mempercepat proses pemulihan kondisi ibu. Ibu bersedia mengikuti anjuran bidan.
- Memberikan ibu makanan dan minuman untuk memulihkan tenaga ibu. Ibu mau makan dan minum.
- Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu mau istirahat
- Menganjurkan ibu untuk BAK agar kandung kemih kosong. Ibu bersedia mengikuti anjuran bidan.
- Melakukan pemeriksaan 6 jam kemudian. Bidan akan melakukan pemeriksaan 6 jam kemudia.







Kunjungan nifas 6 jam Tanggal: 27 Mei 2011 Pukul: 23.30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengeluh luka jahitan masih terasa sakit dan mules sudah mulai berkurang serta ibu sudah BAK tapi ibu masih takut memegang jahitan pada saat membersihkan kemaluannya.

OBYEKTIF
Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, tanda - tanda vital : tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,5 oC, pernafasan : 20 x/menit. TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, lochea rubra banyaknya ± 25 cc, luka jahitan baik.

ASASSMENT
Ny. S umur 22 tahun P2A0 Post Partum 6 jam.

PLANNING OF ACTIONS
- Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa kondisi ibu baik. tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,5 oC, pernafasan : 20 x/menit. Ibu mengetahui keadaan dirinya dan bayinya.
- Mengajarkan ibu cara menjaga kebersihan daerah kemaluannya/vulva hygiene yaitu membasuh kemaluan dari arah depan kebelakang setiap kali selesai BAB/BAK, mengeringkan kemaluan dan mengganti celana dalam apabila basah atau lembab dan memakai celana dalam dari bahan katun agar mudah menyerap air. Ibu sudah mengetahui cara menjaga kebersihan daerah kemaluannya.
- Menganjurkan ibu untuk mengganti pembalut jangan menunggu sampai penuh minimal 4 jam sekali. Ibu bersedia untuk mengganti pembalut minimal 4 jam sekali.
- Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dan istirahat yang cukup dengan menggunakan waktu - waktu pada saat bayi sedang tidur untuk ibu istirahat. Ibu mau melakukan mobilisasi dan istirahat yang cukup.
- Membantu ibu untuk menyusui bayinya. Ibu mau memberikan susu pada bayinya
- Merencanakan untuk melakukan kunjungan rumah 6 hari kemudian dan atau bila ada keluhan.
- Melakukan pendokumentasian.

Kunjungan Nifas 1 minggu Tanggal 4 Juni 2011 Pukul 10.30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan tidak ada keluhan, nafsu makan baik, ASI banyak.

OBYEKTIF
Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik dan didapatkan hasil TD : 120/80 mmHg, N : 80 x/menit, S : 36˚C, Rr : 20 x/menit. pada mata konjunctiva tidak pucat, sklera tidak kuning. Payudara membesar kanan-kiri, puting susu tidak lecet, ASI keluar banyak, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari diatas simpisis, lochea serosa.

ASASSMENT
Ny. S usia 22 tahun P2A0 nifas hari ke 7

PLANNING OF ACTION
- Memberitahukan pada ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu baik, TD : 120/80 mmHg, pada mata konjunctiva tidak pucat, sklera tidak kuning. Payudara membesar kanan-kiri, puting susu tidak lecet, ASI keluar banyak, kontraksi uterus baik, TFU 2 jari diatas simpisis, lochea serosa. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
- Menganjurkan pada ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang (nasi, sayuran hijau, lauk pauk, buah-buahan, serta susu jika ada) karena ibu memerlukannya untuk menyusui bayinya dan untuk ibu sendiri, agar tetap bugar dan sehat sehabis melahirkan dengan nutrisi 800 kalori/hari pada 6 bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400 kalori.mengonsumsi tablet zat besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari. Ibu mau melsanakan anjuran.
- Mengingatkan ibu untuk tetap memberikan ASI tanpa makanan tambahan kepada bayinya sampai bayi berusia 6 bulan. Ibu masih memberikan ASI pada bayinya sampai saat ini tanpa makanan tambahan. Ibu memberikan ASI
- Memberitahukan pada ibu tentang tanda bahaya nifas, yaitu ibu demam tinggi, terjadi perdarahan banyak, tidak seperti biasanya, ibu merasa pusing, serta penglihatan kabur, lochea berbau, dan menganjurkan ibu untuk segera Yankes terdekat bila terjadi bahaya. Ibu mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan.

KUNJUNGAN NIFAS Ke- 3 Tanggal 11 Juni 2011, Pukul 10.30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan tidak ada keluhan.

OBYEKTIF
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TD : 120/80 mmHg, N : 81 x/menit, S : 36˚C, Rr : 20 x/menit, konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, palpasi uterus tidak teraba, lochea alba.

ASASSMENT
Ny. S usia 27 tahun P2A0 nifas hari ke 14


PLANNING OF ACTIONS
- Menginformasikan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu saat ini baik, TD : 120/80 mmHg, N : 80 x/mnt, S : 36˚C, Rr : 20 x/menit, fundus uteri tidak teraba. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan
- Menganjurkan pada ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang (nasi, sayuran hijau, lauk pauk, buah-buahan, serta susu jika ada) karena ibu memerlukannya untuk menyusui bayinya dan untuk ibu sendiri. Ibu bersedia mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang.
- Memberitahukan pada ibu tentang tanda bahaya nifas, yaitu ibu demam tinggi, terjadi perdarahan banyak, tidak seperti biasanya, ibu merasa pusing, serta penglihatan kabur, lochea berbau, dan menganjurkan ibu untuk segera datang ketempat pelayanan kesehatan terdekat bila terjadi tanda bahaya. Ibu mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan.
- Memberikan konseling KB. Ibu mengatakan akan memikirkannya terlebih dahulu KB yang akan digunakan.

3.4 Manajemen Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir
Asuhan Kebidanan pada bayi baru lahir usia 1 jam tanggal 27 Mei 2011 Pukul 18.10 WIB

SUBJEKTIF
Dilakukan pengkajian bayi baru lahir, Bayi lahir normal spontan pervaginam dengan letak belakang kepala dan segera menangis.

OBJEKTIF
Keadaan umum bayi baik, BB : 3600 gr. PB: 49 cm, LK: 35 cm, LD : 33 cm, LP : 35 cm, LILA: 12 cm, S : 36,7 ˚C, Rr : 40 x/menit, Hr: 120 x/menit, cacat negatif, bayi aktif, pada pemeriksaan fisik secara sistematis didapati kepala tidak ada caput succesdaneum dan chepal hematom, muka kemerahan tidak pucat dan tidak cyanosis, pada mata : tidak ada perdarahan, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning, telinga: tidak ada kelainan, mulut : tidak hipersalivasi serta tidak labio platoschizis, hidung: tidak ada kelainan, tidak ada polip, leher : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid, dada : simetris kanan kiri, perut: tidak kembung, tali pusat : segar tidak ada pendarahan, punggung : tidak ada spina bifida, ekstremitas : simetris kanan kiri, jari-jari tidak ada poly atau sindactily, genetalia : jenis kelamin perempuan, tidak ada kelainan labia mayora menutupi labia minora, terdapat klitoris, lubang vagina dan lubang uretra. Anus : positif ada lubang. Kulit, turgor baik, elastisitas normal, warna kemerahan. Persyarapan : Reflek moro baik, yaitu timbulnya pergerakan tangan yang simetris apabila diberi rangsangan. Refleks rooting baik, yaitu menoreh kearah benda yang menyentuh pipi. Refleks babinsky baik, yaitu bila telapak tangan / kaki disentuh maka timbul gerakan fleksi jari-jari tangan / kaki. Refleks suching baik, yaitu bila ibu menyusui bayi dapat menelan dengan baik. Refleks tonic neck baik yaitu bila kepala bayi ditengokkan kekanan maka akan terjadi ekstensi. Pada anggota gerak sebelah kanan dan fleksi pada anggota gerak sebelah kiri, urine dan meconeum sudah keluar. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium.

ASASSMENT
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan usia 1 jam

PLANNING OF ACTIONS
- Memberitahu dan jelaskan pada ibu tantang hasil pemeriksaan bayi, Keadaan umum bayi baik, BB : 3600 gr. PB: 49 cm, S : 36˚C, Rr : 40 x/menit, Hr: 120 x/menit, cacat negatif, anus positif Jenis kelamin perempuan. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan bayinya.
- Melakukan perawatan tali pusat, membungkus tali pusat dengan kasa steril dan kering. Tali pusat sudah dibungkus.
- Memberikan suntik vit K, bayi disuntik Vit k 0,5 ml / IM di 1/3 atas paha kiri. Vit K sudah diberikan
- Memberi suntik Hb 0, bayi disuntik Hb 0 di 13 atas paha kanan.
- Menjaga kehangatan bayi dengan mengganti kain bayi yang basah, mengganti dengan baju + popok, dan membedong bayi. Bayi sudah dihagatkan.
- Memberikan bayi pada ibu untuk disusi, dan mengnjurkan pada ibu untuk memberikan ASI sedini mungkin. Bayi sudah diberikan pada ibu.
- Mengobservas Keadaan umum, TTV, tanda-tanda hipotermi dan tanda-tanda infeksi.

Kunjungan 1 hari pada bayi, Tanggal 28 Mei 2011 Pukul 06.30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan bayi nya dalam keadaan sehat, menyusu kuat, menangis kuat dan gerakan aktif, terakhir bayi sudah BAB ±3X dan BAK ± 4X feases berwarna hijau kehitaman

OBYEKTIF
Keadaan umum : bayi baik, suhu 36,7ºc, laju jantung 110 x/menit pernafasan 40x / menit, bayi menangis kuat, dan refleks positif, tali pusat tidak ada perdarahan dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

ASASSMENT
Neonatus cukup bulan sesuai usia kehamilan usia 2 hari

PLANNING OF ACTIONS
- Memberitahukan pada ibu bahwa keadaan bayi nya yaitu bayi dalam keadaan normal dan sehat. Ibu mengetahui tentang keadaan bayi nya.
- Menjemur bayi pada pagi hari selama ±30 menit. Ibu mengerti dan mau menjemur bayinya besok pagi.
- Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dengan cara pemberian ASI ekslusif untuk bayi dan dilakukan selama 6 bulan tanpa makanan pendamping apapun. Ibu mau memberikan ASI esklusif pada bayi nya.
- Menjelaskan pada ibu tanda bahaya bayi baru lahir yaitu: bayi tidak mau menyusu,badan bayi panas, adanya cairan dan bau pada tali pusat, bayi menangis terus/merintih, bayi kejang, dan menganjurkan pada ibu untuk segera membawa bayi nya ketempat pelayanan kesehatan apabila menemukan gejala bahaya pada bayi nya. Mengerti tentang tanda bahaya pada bayi dan ibu tau tindakan apa jika terdapat tanda bahaya pada bayi nya.
- Menjelaskan dan menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan tali pusat dengan membungkus tali pusat dengan kasa steril dan kering tanpa memberi betadhine dan alkohol. Ibu mengerti tentang perawatan tali pusat dan tau cara perawatan nya.

Kunjungan Bayi Baru lahir 1 minggu
Tanggal 4 juni 2011, Pukul 10.00 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan bayi mau menyusui, tali pusat sudah puput 2 hari yang lalu.

OBYEKTIF
Keadaan umum : baik, Rr : 30 x/menit, S :37˚C, Hr : 122 x/manit, pergerakan aktif, menangis kuat, pusat tampak kering dan tidak berbau, PB : 52 cm.

ASASSMENT
Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan hari ke 7.

PLANNING
- Memberitahukan nutrisi dengan ASI eksklusif. Ibu memberikan ASI pada bayinya.
- Memantau tanda-tanda pada bayi antara lain bayi tidak mau menyusui, badan bayi panas, keluar cairan dari tali pusat dan berbau, bayi kejang, menangis terus menerus,dan menganjurkan pada ibu untuk segera membawa ke tempa pelayanan kesehatan bila terjadi tanda bahaya. Ibu mengerti tentang penjelasan dari bidan.
- Menjemur bayinya setiap pagi selama + 20 menit, untuk mencegah bayi tidak kuning dan tidak lebih dari jam 09.00. Ibu sudah melakukannya.
- Menjaga personal hygiene bayi. Ibu memandikan bayi 2 kali sehari dengan air hangat.

Kunjungan Bayi Baru lahir 2 minggu Tanggal 11 Mei 2011, Pukul 10.30 WIB

SUBYEKTIF
Ibu mengatakan bayi mau manyusu, BAK 5-7 kali sehari, BAB 2-3 kali sehari dan tidak ada keluhan, dan tidak rewel.
OBYEKTIF
Keadaan umum : baik S : 36,8ºc, N : 120x/ menit, Rr: 45 x/menit gerakan aktif, menangis kuat, tali pusat sudah puput, BB: 3000 gram PB : 52 cm, sklera tidak kuning, elastisitas kulit dan turgor baik, warna merah kekuningan, perut tidak ada kembung.

ASASSMENT
Neonatus cukup bulan sesuai usia kehamilan usia 14 hari

PLANNING
- Memberitahukan ibu tentang keadaan bayi nya yaitu bayi dalam keadaan normal dan sehat. Ibu mengetahui keadaan bayi nya.
- Mengingatkan dan menganjurkan kembali ibu untuk tetap memberikan ASI tanpa makanan tambahan sampai usia bayi 6 bulan. Ibu mengerti dan mau memberikan ASI ekslusif untuk bayinya.
- Memberitahukan pada ibu untuk imunisasi BCG pada bayi nya bila bayi berusia 1 bulan tanggal yaitu tanggal 27 juni 2010. Ibu mengatahui jadwal imunisasi berikutnya.
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis mencoba menyajikan pembahasan dengan membandingkan antara teori dengan manajemen asuhan komprehenshif yang diterapkan pada Ny. S usia 22 tahun selama kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan nifas.

4.1. Kehamilan
Kebijakan teknis pemerintah pada pemeriksaan kehamilan saat kontak pertama kali dilakukan pemeriksaan 10 T, Timbang berat badan, ukur Tekanan darah, nilai status lingkar lengan (LILA), ukur Tinggi fundus uteri, Tentukan presentasi janin dan DJJ, pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT), pemberian Tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan. Tes Laboratorium, Tes terhadap penyakit menular seksual (PMS) dan Temu wicara atau konseling termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Namun, pada kenyataanya mahasiswa hanya melakukan 8 T. Pemeriksaan yang tidak dilakukan adalah tes penyakit menular seksual, hal ini dikarenakan klien tidak ada indikasi untuk pemeriksaan Tes penyakit menular seksual. Klien tidak pernah mendapatkan imunisasi TT pada kehamilan saat ini, karena Ny. S tidak memeriksakan kehamilannya pada usia kehamilan 5-7 bulan dan baru datang kembali ke tenaga kesehatan pada usia kehamilan 38 minggu, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa selama hamil ibu harus mendapatkan imunisasi TT sebamyak 2 kali (Saifuddin,2006), yang berfungsi untuk melindungi ibu dan janin dari penyakit tetanus dan Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum usia kehamilan menginjak 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap. (BKKBN, 2005).
Pada kontak pertama antara penulis dengan Ny. S tanggal 13 Mei 2011, Ny. S mengatakan sudah melakukan kunjungan ANC sebanyak 3 kali yaitu 2 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua. Hal ini sesuai dengan teori dimana pemeriksaan antenatal care dilakukan minimal sebanyak 4 kali selama kehamilan yaitu satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga (saifuddin, 2006). Pada kunjungan berikutnya Ny. S melakukan kunjungan sesuai dengan jadwal pemeriksaan kehamilan trimester III yaitu 2 minggu sekali dan 1 minggu sekali setelah usia kehamilan diatas 38 minggu.
Hasil pemeriksaan yang dilakukan selama hamil, ibu mengalami peningkatan berat badan hingga 16 kg. Berarti hal ini sesuai dengan teori bahwa kenaikan berat badan badan normal selama hamil 6,5 sampai 16 kg
(Prawihardjo, 2001).
Dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap klien yaitu pemeriksaan kadar Hb dengan sahli, protein urine dan urine reduksi dengan hasil protein urine negatif (-), protein reduksi negatif (-), dan Hb tidak berhasil, dan dilakukan pemeriksaan ulang pada kunjungan berikutnya dengan hasil Hb 11 gr %. Dan menurut teori Ny. S tidak mengalami anemia karena anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester I dan III, <10,5 gr % pada trimester II.
Selama kehamilan penulis melakukan asuhan-asuhan kepada ibu, diantaranya memberitahu ibu untuk mengkonsumsi nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin, menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya kehamilan, serta melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan mendeteksi ada tidaknya komplikasi-komplikasi selama kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kunjungan pada kehamilan 36 minggu sampai lahir, dilakukan untuk persiapan dan pengobatan anemia, perencanaan persalinan, pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya, penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan saluran perkemihan, mengulang perencanaan persalinan. mengenali adanya kelainan letak dan presentasi, memantapkan rencana persalinan. (Siti, 2009)
Setelah melakukan asuhan, Ny. S telah mengerti dan mau melakukan apa yang telah penulis sarankan. Dan selama pemeriksaan kehamilan Ny. S tidak terdapat komplikasi.
4.2. Persalinan
Pada saat ibu akan bersalin, ibu datang ke BPS Bd. Een di dampingi oleh keluarga pada tanggal 27 Mei 2011 pukul 17.00 Wib, ini sangat membantu untuk mengurangi kecemasan pada ibu karena adanya dukungan moral dari keluarga.
Ibu bersalin pada usia kehamilan 40 minggu, bayi lahir dengan spontan dan dilakukan dengan kekuatan ibu sendiri. Persalinan berlangsung tanpa adanya komplikasi.
Pada kala I fase aktif, pasien datang dengan keluhan mules yang semakin adekuat dan sering. His 4 kali dalam 10 menit lamanya lebih dari 40 detik, dilakukan pemeriksaan dalam hasilnya porsio tipis lunak, pembukaan 8 cm ketuban utuh presentasi kepala. Proses ini sesuai dengan teori (Ujiningtyas, 2009) yang menyatakan kala I fase aktif dimulai pada pembukaan 4 cm.
Pembukaan sudah 8 cm maka mulai diobservasi dengan menggunakan partograf sampai pembukaan lengkap dengan menilai TTV, His, dan DJJ, pembukaan, ketuban, penurunan kepala. Pada Ny. S pemantauan partograf sampai pembukaan lengkap tidak melewati garis waspada, sesuai dengan teori yang menyatakan garis waspada dimulai pada pembukaan 4 cm dan berakhir pada titik dimana pembukaan lengkap (JNPK-KR, 2008).
Kala II pada Ny. S belangsung selama 10 menit, proses ini sesuai dengan teori yaitu pada primigravida berlangsung selama 30 menit - 1 jam (Ujiningtyas, 2009). Asuhan yang telah diberikan yaitu mengobservasi TTV, DJJ, serta his, memimpin ibu meneran, menghadirkan pendamping selama proses persalinan, serta memenuhi asupan nutrisi ibu, menjaga privasi ibu.
Setelah bayi lahir terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta : uterus globuler, tali pusat memanjang, dan terdapat semburan darah tiba-tiba. Melakukan manajemen aktif kala III yaitu : memberikan oksitosin 10 IU IM, melakukan peregangan tali pusat terkendali, serta masase fundus uteri setelah bayi lahir selama 15 detik. Dan melahirkan plasenta dengan cara tangan kiri berada diatas shymphisis mendorong kearah dorso kranial, setelah plasenta berada divulva tangkap dengan kedua tangan dan putar searah jarum jam. Kala III Pada Ny. S berlangsung 15 menit Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan kala III yang berlangsung normal tidak lebih dari 30 menit Perdarahan kala III ± 100 cc, hal ini normal karena menurut teori perdarahan normal kala III kurang dari 500 cc. (JNPK-KR, 2008)
Ny. S dilakukan hecting karena mengalami ruptur perineum derajat dua, ibu tidak diberikan anastesi karena tahan sakit, dan tidak mau disuntik meskipun lidokain sudah disiapkan. Tetapi menurut (JNPK-KR, 2008) seharusnya anastesi diberikan untuk asuhan sayang ibu.
Pada kala IV dilakukan observasi selama 2 jam pertama, yaitu setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua. Yang dinilai Tekanan darah, Nadi, Suhu, TFU, kontraksi uterus, kandung kemih, dan darah yang keluar. Hal ini sesuai dengan asuhan persalinan pada kala IV. (JNPK-KR, 2008)

4.3 Nifas
Pada 6 jam post partum, keadaan umum ibu baik, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan normal, lochea rubra, kandung kemih kosong, dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Memberitahukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, menganjurkan pada ibu untuk melakukan mobilisasi dan istirahat yang cukup, serta memberitahu ibu untuk menjaga kebersihan diri dengan mengganti pembalut minimal 2 kali sehari. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan kunjungan pertama dilakukan pada waktu 6-8 jam post partum (Saifuddin, 2006).
Pada kunjungan 7 hari, keadaan umum ibu baik, TFU 2 jari dibawah pusat, perdarahan normal, lochea sanguinolenta, kandung kemih kosong, dan tidak ada tanda-tanda adanya infeksi. Menurut teori, pada masa nifas lochea sanguinolenta terdapat pada hari ke 3-7. Tidak ditemukan masalah yang terjadi pada masa nifas 7 hari. Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya masa nifas, serta memotivasi ibu untuk selalu menyusui bayinya (Saifuddin, 2006).
Pada kunjungan post partum 14 hari, keadaan umum ibu baik, TFU sudah tidak teraba, perdarahan tidak ada, lochea alba, serta tidak ditemukan tanda-tanda adanya infeksi. Menurut teori, pada 2 minggu pasca persalinan, terdapat uterus yang semakin mengecil (involusi) dan lochea yang keluar adalah lochea alba (Sarifuddin, 2006).

4.4 Bayi Baru Lahir
Pada bayi Ny. S setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan langsung dengan menilai tangisan bayi kuat, warna kulit merah, pergerakan aktif, menjaga bayi tetap hangat dan melakukan inisiasi dini (IMD). Hal ini sesuai dengan teori pemeriksaan awal pada bayi dilakukan 1 menit setelah bayi baru lahir, yang dinilai menangis, warna kulit, tonus otot (JNPK-KR, 2008). Setelah bayi 1 jam bayi di berikan obat tetes mata eritromisin 0,5 % untuk pencegahan penyakit mata karena klamida (PMS), kemudian bayi disuntikanVitamin K 0,5 mg/IM untuk mencegah terjadinya perdarahan dan diberikan Hb0 segera setelah pemberian vit K. Namun dalam pemberian Hb0 dilakuakn tidak sesuai teori, karena menurut (JNPK-KR, 2008) Hepatitis B pertama diberikan 1-2 jam setelah pemberian Vitamin K1. Hal ini tidak efektif karena jika diberikan secara bersamaan efek dari salah satu obat akan berkurang. (http://www.scribd.com)
Setelah diberikan salep mata dan vitamin K, pada bayi baru lahir dilakukan pemeriksaan antopometri hasilnya Jenis kelamin perempuan BB : 3600 gram, PB : 49 cm, LK : 33 cm, LD : 32 cm. dan pemeriksaan fisik pada bayi hasinya normal tidak ada cacat. Hal ini sesuai teori bahwa ukuran-ukuran tubuh normal bayi yaitu panjang badan normal yaitu 48 cm – 52 cm, lingkar kepala ukuran normalnya 32 – 35 cm, lingkar dada ukuran normal yaitu 30cm – 33cm, lingkar lengan atas ukuran normalnya yaitu 11 – 14 cm, dan berat badan berat badan normal yaitu 2500 gr – 4000 gr
Pada pemeriksaan bayi baru lahir 1 hari, keadaan umum bayi baik, tidak ada perdarahan pada tali pusat, suhu stabil 36,7ºC, laju jantung 110 x/menit pernafasan 40x / menit. Dan sesuai dengan teori bahwa keadaan bayi normal yaitu laju jantung bayi baru lahir normal yaitu 110 - 180 x/mnt, suhu normal yaitu 36,5 ͦ c -37,5 ͦ c, dan pernafasan yaitu 40 – 60 x/mnt. Memberikan penkes kepada ibu tentang pemberian ASI ekslusif, perawatan BBL. Perawatan tali pusat, mengenal tanda bahaya pada BBL. Hal ini sesuai dengan teori (Sarwono, 2007).
Pada kunjungan 7 hari, keadaan umum baik, suhu 36,8ºC, serta tidak ada tanda-tanda infeksi. Tali pusat sudah puput. Imunisasi HBo sudah diberikan pada hari ke- 1, sesuai dengan program pemerintah bahwa HBo diberikan pada usia 0-7 hari. Pada kunjungan 2 minggu keadaan umum bayi baik, suhu 36.8ºC, panjang badan 52 cm.





















BAB V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan
Dari uraian materi dan pembahasan kasus tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pentingnya asuhan yang diberikan oleh bidan terhadap ibu pada masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas. Sehingga deteksi dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi dapat dihindari.
Pada pemeriksaan kehamilan Ny. S telah melakukan kunjungan ANC sebanyak 5 kali. Asuhan yang diberikan terhadap Ny. S tidak terdapat masalah. Pada pemerksan kehamilan, Ny. D melakukan kunjungan antenatal care sebanyak 2 kali yang di pantau oleh penulis, pemeriksaan di lakukan pada tanggal 13 Mei 2011 dan 18 Mei 2011. Mengikuti masa kehamilan tanpa adanya komplikasi. Hal ini berarti penulis mampu menerapkan pengkajian dan pelaksanaan asuhan kebidanan kepada ibu hamil, sesuai dengan pola pikir Manajemen Kebidanaan Varney dan melalukan pendokumentasian dengan metode SOAP.
Kala I proses persalinan Ny. S berjalan lancar sampai kala II, bayi lahir spontan. Dengan penilaian awal bayi baru lahir, bayi segera menangis, warna kulit kemerahan, dan gerakkan aktif. Pada kala III plasenta lahir spontan lengkap, tidak ada penyulit, berlangsung selama 10 menit. Dan pada kala IV dilakukan pengawasan selama 2 jam post partum, tidak terdapat masalah ataupun komplikasi yang ditemukan.
Masa nifas Ny. S berjalan normal mulai kunjungan 6 jam, 7 hari, 2 minggu. Dari data yang diperoleh dari kunjungan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Ny. S dan Bayinya tidak mengalami komplikasi.
Pada pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan pada Ny. Ssebagian telah dilakukan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dan berdasarkan teori yang ada dengan praktek yang nyata.

5.2. Saran
5.2.1 Bagi Penulis
Agar penulis dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki untuk melakukan asuhan kebidanan sesuai standar profesi kebidanan yang dilakukan secara komprehensif dan dapat mengatasi kesenjangan yang terkadang timbul antara teori yang di dapat diperkuliahan dengan praktik yang nyata di lahan serta dapat mengaplikasikan teori yang di dapat dengan perkembangan ilmu kebidanan terbaru.
5.2.2 Bagi Lahan Praktek
Untuk bidan maupun tenaga kesehatan lainnya diharapkan dapat memberikan asuhan yang menyeluruh serta mendeteksi kelainan secara dini dan mencegah terjadinya komplikasi dalam masa kehamilan dan persalinan
5.2.3 Bagi Institusi pendidikan
Agar institusi dapat menilai sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan yang telah didapat dengan mempraktekkan dan menerapkannya pada pasien / klien secara langsung.
5.2.4 Bagi pasien
Agar suami dan keluarga dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu sehingga ibu dapat menjalani kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir dengan baik dan aman.









DAFTAR PUSTAKA

Banten.go.id. http://just4share-clickonme.blogspot.com/2010/07/aki-dan-akb-di-propinsi-banten.html. Diunduh ‎24 ‎Juni ‎2011.
Depkes RI, 2010. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/790-ibu-selamat-bayi-sehat-suami-siaga.html. Diunduh 24 ‎Juni ‎2011.
Depkes RI. 2010. http://staff.blog.ui.ac.id/r-suti/files/2010/03/buku-pws-bab-i-pendahuluan.pdf. Diunduh 15 ‎Juni ‎2011.
Admin.http://www.dinkes.kulonprogokab.go.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=12.
Diunduh 28 Juni 2010.
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: DepKes RI.
Hidayati, Ratna. 2009. Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.
Riskesdas, 2010. diakses 12 Juni 2011
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: ECG.
Simatupang, E.J. 2006. Penerapan Unsur-unsur Manajemen Dalam Praktik Kebidanan. Jakarta: Awan Indah.
Simkin, Penny. 2009. Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan, dan Bayi. Jakarta: Arcan.
Suherni, dkk. 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
Sumarah, dkk. 2008. Perawatan Ibu Bersalin. Yogyakarta : Fitramaya.
Sujiyatini, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan II (Persalinan). Yogyakarta: Rohima Press.
Ujiningtyas, CSH. 2009. Asuhan Keperawatan Persalinan Normal. Jakarta: Salemba Medika.
Varney, Helen. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Ed.4. Jakarta : EGC
Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP.